Pages

Senin, 31 Desember 2012

Jelang Tahun Baru di Warung Kopi Ruang Pikiran

Menjelang malam tahun baru ini saya berdoa,
“Ya Allah, kami percaya hujan itu rahmat bagi kami. Maka turunkanlah malam ini dengan lebat, demi kebaikan kami semua.”

Tiba-tiba di ruang pikiran saya seorang bapak separuh baya menyela,
“Kamu gak adil! Apa yang kamu doakan itu belum tentu baik untuk semua orang. Bagi saya yang penjual terompet yang mengais rezeki dari malam ini, hujan lebat bukanlah sesuatu yang baik. Bagaimana saya bisa dapat duit? Buat makan saya dan anak istri saya, juga biaya sekolah anak saya? Hah?”

“Sabar Pak. Saya mengerti perasaan bapak. Memang hidup kita zaman sekarang susah. Tapi bapak muslim kan? Bagi kita orang beriman, kita percaya bahwa rezeki mutlak di tangan Allah.. eh biar enak ngobrolnya gimana ya...”

Saya clingak-clinguk sebentar, di ruang pikiran saya di sebelah sana terdapat warung kopi. Saya lalu berujar,

“Pak, mari kita ke warung sebelah sana dulu. Saya bayarin kok.”
Bapak itu mengangguk saja meski ekspresinya masih terlihat kurang berkenan. Di warung lalu saya memesan 2 cangkir kopi hangat, dan mempersilakan bapak tadi mengambil penganan yang ada di warung tersebut jika mau. Kopi sudah datang. Saya mulai menyeruputnya duluan,
“srrruuuuutt, cegukk, aaah. Maknyos euy. Eh ngomongin apa kita tadi? Oya. Ehm bapak, tahukah bapak? Bahwa budaya merayakan tahun baru itu bukan budaya yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ini sejarahnya merupakan perayaan orang-orang kafir romawi dalam rangka memuja dewa mereka. Nah kita orang Islam dilarang ngerayain kayak beginian. Memperingatinya sama aja dengan meniru kebiasaan orang kafir. ”

“Lo tapi kan sudah jadi kebiasaan ini tiap tahun? Lagi pula bukankah banyak orang yang tumpah ruah merayakannya?” bapak menyela setelah tadi menghabiskan kopinya dalam sekali teguk.

“Begini pak, biar saya selesaikan dulu penjelasan saya. Sesuatu yang menjadi kebiasaan bagi kita belum tentu merupakan hal yang benar pak. Seandainya kebiasaan menjadi standar kebenaran, bagaimana jika suatu saat korupsi dianggap suatu yang sah-sah saja dilakukan? Bukankah korupsi saat ini sudah mulai menjadi suatu kebiasaan?”

Saya melanjutkan. “Dan banyaknya orang yang melakukan hal itu juga bukanlah standar kebenaran. Misalkan ada suatu kampung yang terdiri dari puluhan preman dan seorang ulama, memutuskan apakah perjudian di sana harus ditutup atau tidak. Maka diambil suara terbanyak, dan para preman yang ingin perjudian tetap dibuka menang. Sehingga bisakah kita menyimpulkan perjudian itu hal yang dibenarkan? Tentu tidak kan bapak?”

“Tapi ini kan hal yang bermanfaat? Dengan merayakan tahun baru orang jadi berintrospeksi diri dan berniat menjadi lebih baik di tahun depan. dan lihatlah, banyak yang mendapatkan penghasilan dari sini. Para entertainer, penyanyi nasional hingga dangdut lokal, penjual kembang api, pedagang terompet seperti saya dan ratusan bahkan mungkin ribuan lainnya?”

“Hmm, wih... bapak cerdas juga ya?”

“ya eyalah! gua gitu loh!”

Menghela nafas sebentar, lalu saya melanjutkan “Baik pak, dalam Islam bukankah kita diajarkan untuk melakukan introspeksi? Bahkan setiap saat, tak cuma dalam hitungan tahun. Tadi saya baca koran pak, katanya kondom habis terjual di malam tahun baru ini, dan faktanya memang kemaksiatan banyak terjadi pada momen beginian. Jadi banyak juga mudharatnya! Pergaulan bebas, kebobrokan moral, rusaknya tatanan sosial bisa menjadi akibatnya.

“Kita harus memahami juga bahwa sesuatu tak bisa dikatakan benar hanya berdasarkan nilai manfaatnya. Seandainya manfaat menjadi standar kebenaran, maka kacaulah dunia ini pak. Misalkan ada satu keluarga yang kesusahan dari segi materi, sehingga si suami selaku kepala keluarga lalu memerintahkan istrinya untuk maaf, menjadi PSK demi menambah penghasilan keluarga mereka. Dari segi manfaat, bukankah itu luar biasa? Tanpa modal yang berarti, kecuali kenekatan dan seperangkat alat kosmetik seadanya. Penghasilan dari itu akan mampu mencukupi untuk makan, bahkan membiayai sekolah anak-anak mereka. Tapi apakah itu bisa dianggap sesuatu yang benar pak?”

“Iya sih, tapiii... ya gimana kita ini dek, kalau gak gini jadi susah hidup. Nyari yang haram aja ribet apalagi yang halal. Eh dek saya nambah lagi kopinya yah!” 
“Eh silakan pak pesan lagi. Nah sebenarnya halal dan haram itulah yang harus jadi tolak ukur kita melakukan suatu perbuatan, apakah itu benar atau salah. Ya beginilah pak, di zaman sekarang dimana agama dipisahkan dari kehidupan, segalanya jadi susah, apalagi berusaha buat taat sama aturan Allah. Tapi ingat pak, kita ini dimasukkan ke surga atau dilempar ke neraka bukan berdasarkan kaya miskinnya kita. Tapi berdasarkan banyaknya pahala sama dosa kita.

“Pak, hidup ini cuma sementara, lagian sangat sebentar jika dibandingkan akhirat yang kekal abadi. Kesusahan kita di dunia, karena berusaha taat sama Allah, mestinya tak membuat ketaatan kita luntur. Dengan taat, biar bapak miskin, bapak tetap mulia di hadapan Allah toh? Bukankah Allah juga berjanji barangsiapa yang bertakwa kepadanya akan diberikan jalan keluar lalu dikasih rezeki dari arah yang gak disangka-sangka? ”

“Iya yah. Wah seandainya semua orang berpikiran kayak adek ini, pasti dunia ini bakal damai dan tentram. Saya jadi kepengen punya mantu kayak adek. Mau gak kamu?”

“Emang anak bapak siapa, cakep gak? Wih jadi salah tingkah nih”

“Anak saya cuma satu, umurnya kurang lebih kayak adek juga. Namanya Joko Susilo.”

“Apa?! Waduh, emangnya saya ini maho? Jijay eyke mah!”

“Hehe, iya juga yah. Eh tapi gimana nih banyak rekan-rekan saya yang lain gak tau kalo gak boleh ikut jualan yang ngedukung perayaan tahun baru nih!”

“Itulah, seandainya aturan Islam diterapkan, dengan menjalani pendidikan berlandas aqidah, maka bapak-bapak akan berpikir lagi untuk berjualan memanfaatkan momen perayaan yang gak sesuai Islam. Faktor ekonomi pastinya berperan di sini juga kan pak. Karena banyak yang gak sejahtera akhirnya nyari materi yang jadi fokus utamanya. Kalau aturan ekonomi Islam dijalankan, bapak sama kawan-kawan gak usah repot-repot lagi kayak gini. Lapangan pekerjaan di sector yang haram pasti bakal dihapuskan! Lapangan kerja yang halal dimaksimalkan. Sumber daya alam dikembalikan kekayaannya ama rakyat! Kebutuhan-kebutuhan pokok seperti sekolah ama kesehatan bisa gratis, kayak dulu waktu masih ada Kholifah.”

“Keren ih! Trus kapan lagi ada Kholifah?”

“Kapan-kapan pak, hehe. Insya Allah bentar lagi. Tapi kalo bapak mau serius insya Allah di balik kesempitan ada aja kesempatan pak. Temen-temen saya buktinya ada aja yang bisnis halalnya sukses. Udah dulu ya pak. Kayaknya bentar lagi mau ujan beneran nih. Lagipula saya takut kejebak macet, yah soalnya masih banyak yang gak paham masalah tahun baruan ini. Nih saya kasih nomor saya aja, nanti kita kontak-kontakkan lagi. Ok pak?”

“Oke sip!”

“Assalamu’alaykum”

“Wa’alaykumussalam.”

Dalam ruang pikiran, saya melangkahkan kaki menuju motor saya yang diparkir di sebelah sana. Tiba-tiba,

“Woy mas, bayar dulu kopinya!” pemilik warung berseru.

“O iya, eh dompet saya mana nih? Waduh kayaknya ketinggalan. Ngutang dulu paakk!”

4 komentar:

lana mengatakan...

Bolehkah ikutan ngopi juga, Bro?

Adit Ahmad mengatakan...

silakan, dengan senang hati lan! dan bakal lebih menyenangkan klo kamu yg bayarin :D

Unknown mengatakan...

kapan-kapan , mau mampir bareng kluarga ku brooow...?

Adit Ahmad mengatakan...

saya merindukannya, bertukar pikiran di warung kopi bersama seorang seniman :)

Posting Komentar

.