Pages

Senin, 18 Juli 2011

Pria di Tengah Medan Perang

Suasana perang tak membuatnya hilang nyali untuk masuk ke sana. Justru ia tertantang untuk segera datang dan membantu saudara-saudara sesama Muslim. dr. Jose Rizal Jurnalis, siapa tak kenal dia? Semoga menginspirasi..

Siapa yang tidak takut masuk ke medang perang? Wajar jika rasa itu ada. Tapi dari pengalaman di Maluku, saya sudah membangun pandangan bahwa kematian itu hanya ditentukan oleh Allah SWT. Dan kematian yang paling mulia itu syahid. Itu besar faidahnya bagi kita dan keluarga kita. Tapi tentu jangan asal mau mati syahid tanpa ada persiapan dan tahu syariatnya.

Ketika pertama kali berangkat ke daerah konflik, istri saya sempat bicara macam-macam. Dia sangat khawatir dengan keselamatan saya. Tapi sekarang tidak lagi. Begitu saya mau berangkat, dia langsung membereskan pakaian dan segala kebutuhan. Tak lupa kita menyelesaikan segala utang piutang. Jangan sampai kalau 'lewat' istri dililit utang.

Mungkin banyak yang bertanya mengapa saya begitu bersemangat masuk ke medan konflik? Pertama, terus terang kita ini kan mendapat amanah seperti kecerdasan, kesehatan, keberuntungan sekolah di sekolah terbaik, dapat guru-guru yang hebat juga. Saya merasa ini kesempatan yang tidak semua orang punya. Alangkah sayangnya kalau amanah yang diberikan Allah itu tidak dimanfaatkan untuk hal-hal bukan hanya sekadar cari uang.

Kedua, saya merasakan ketika datang ke daerah-daerah tersebut untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan medis, hidup ini lebih mudah. Saya merasa dunia ini lebih lega. Tidak sempit. Dan menurut Ustad Abu Bakar Basyir memang begitu. Jika engkau menolong agama Allah maka Allah akan memuliakan dan meneguhkan. Di sini kuncinya.

Minggu, 17 Juli 2011

Keterikatan untuk Kemuliaan

Mungkin mereka terlalu sering menengadah memandang burung yang terbang bebas menembus awan. Sembari membayangkan, kebebasan yang seperti itu terasa damai dan menyenangkan. Mereka -yang menamakan golongannya sebagai anarkis-, menginginkan kehidupan tanpa otoritas, tanpa ada lagi strata kasta dalam hidup manusia.

Anarki adalah perindu kebebasan martabat individu. Ia menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih masyarakat tanpa pemerintah. Jadi, bumi anarki sejatinya bumi utopis yang dihuni individu-individu yang ogah memiliki pemerintahan. Anti hierarki.

Ya, sekilas ide anarki ini adalah ide yang menyenangkan. Tapi lebih jauh mereka mulai tidak sopan, tak hanya mengingkari otoritas penguasa di dalam kehidupan bernegara, mereka pun mencoba berontak melawan otoritas tertinggi -otoritas Tuhan-. Meski ada yang mengklaim anarki pun bisa religius, namun itu hal yang absurd.

***
Seperti juga kebanyakan yang lain, saya pernah mengalami masa muda tanpa kematangan pemikiran. Walaupun sebenarnya sekarang pun masih perlu dimatangkan karena baru sekitar tiga perempat matang. Dulu yang saya maksud, mungkin masih seperempat matang lah. Tapi saya bukan orang yang maniak eksistensi atau senang cari sensasi. Paling banter saya bolos tiap upacara 17-an dengan alasan yang tidak ideologis atau menjadikan main domino di mushalla sekolah sebagai ngabuburit di bulan Ramadhan hingga digrebek wakil kepala sekolah.

Rabu, 13 Juli 2011

Bukan Bolang Biasa

Kapan lagi kawan?
Kita kembali menyusuri jalan mendaki di antara pepohonan.
Menyisihkan rerumputan tinggi dengan tangan dan potongan dahan.
Melangkah tenang sementara saja tanpa ada beban pikiran.
Menengadah ke langit bersih dengan apungan awan-awan.
Bersenandung pelan beriring kicauan burung yang bertenggeran dan terbang pelan.
Memanjakan paru dengan partikel udara segar dan menyehatkan.
Melatih jasmani juga menentramkan rohani.
Menikmati karya seni bernilai tinggi,
berdecak kagum atas guratan kuas kuasa Sang Rabb di atas kanvas bernama bumi.

Ayolah, waktu masih panjang!

Jumat, 01 Juli 2011

BBM Subsidi

BBM BERSUBSIDI HANYA UNTUK ORANG YANG TIDAK MAMPU
-Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral-
Kalimat ini saya temukan terpampang di sebuah spanduk di pagar SPBU dekat rumah kontrakan saya saat lari pagi melewatinya. Waktu itu saya belum gosok gigi dan mandi (sudahlah, ini tidak penting). Yang saya bingung, seperti apa batasan 'orang yang tidak mampu' tersebut? Wah, artinya kalau saya masih membeli premium untuk minum Si Supri (panggilan sayang untuk Supra X saya), berarti saya masuk golongan tidak mampu dong?
Tapi, mengapa yang dipajang bukan tulisan "BBM HANYA UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT"? Bukan kah ini sesuai juga dengan Pasal 33 UUD 1945? Apakah orang-orang yang mampu itu bukan rakyat??
Kemudian saya terhenyak tatkala mengetahui berita mengenai adanya rencana dari MUI untuk memfatwa-haramkan orang kaya membeli BBM bersubsidi. Tunggu dulu, ada yang aneh! Jika bbm subsidi difatwa haram bagi orang kaya.. maka Exxon, Chevron dan perusahaan asing lain juga harus difatwa haram mengambil BBM dari perut bumi negeri ini kan??

Kamis, 30 Juni 2011

Seruan Mesra untuk Revolusi

Sesungguhnya tegaknya Daulah Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah yang mengikat atas seluruh kaum Muslim. Melalaikan kewajiban ini merupakan kemaksiatan yang akan mendapatkan azab yang pedih dari Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada baiat (kepada Imam/Khalifah), ia mati seperti kematian Jahiliah (HR Muslim).

Baiat itu hanya kepada Imam yaitu Khalifah, bukan kepada yang lain. Maka kewajiban adanya baiat di atas pundak setiap Muslim hanya terjadi saat ada Khalifah.

Kewajiban menegakkan Khilafah ini menjadi penentu sempurnanya pelaksanaan berbagai hukum dan kewajiban lainnya. Tatkala Daulah Khilafah Islam tidak ada seperti saat ini, banyak hukum Islam dan kewajiban terlantar dan tidak bisa dilaksanakan. Padahal kita diperintahkan untuk menerima dan melaksanakan semua hukum islam secara kaffah (Lihat: QS al-Hasyr [59]: 7, al-Maidah [5]: 47-49).

Selasa, 28 Juni 2011

Santai Saja!

Santainya nyawa...!

Yah, bagaimana lagi saya harus bersikap? Mungkin itu yang ingin saya katakan pada teman saya yang mengatakan kalimat di atas tadi. Ia mengatakan kalimat itu setelah mengetahui kondisi saya saat itu. Hari itu memang 'gokil'. Dompet saya, jatuh entah dimana. Klasik lah, di dalamnya ada KTP, SIM, STNK, uang seratus ribuan, KTM. Tak lama, satu insiden terjadi lagi: laptop saya monitornya mati mendadak pas dipakai ngetik. Saya utak-atik tombol on-offnya, gak mau nyala-nyala juga. Yah, padahal ini minggu-minggu ujian. Dimana laptop adalah seakan nyawa, semua materi-slide kuliah dosen ada di dalamnya. Seandainya flashdisk bisa dicolok ke tipi 14 in biasa di kontrakan, lalu menjalankan program Microsoft power point mungkin tidak terlalu masalah. Tapi kamu pun tahu mana bisa tipi biasa bisa. Begitu juga kompor minyak butut di dapur kami.

Dan saya katakan itu pada teman satu kontrakan saya. Jangan salah paham, kami bukan berarti kumpul kebo walau tinggal di bawah satu atap. Saya cowok, mereka juga cowok. Ih, mana mungkin eyke kayak gitu!

Saya menceritakannya dengan maksud, kalau-kalau teman saya itu ada liat tuh dompet. Ternyata tidak. Saya tertawa setelah sedikit berbasa-basi standar, "Gitu ya, wah gimana nih?", lalu rebahan. Keluarlah kata-katanya sebagaimana tadi. Saya ingin menampakkan kepanikan saya, tapi saya tak pandai akting. Ya, sebab saya memang merasa santai saja.

Ada yang pernah bilang ke saya, kalau saya ini terlalu gampang menyederhanakan sesuatu. Semuanya, atau kalau tidak, kebanyakan selalu saya hadapi dengan kata-kata 'santai saja'. Memang ada akhirnya beberapa ketidakprofesionalan dalam menjalani suatu proses, setelah saya bersikap seperti itu. Mungkin karena santai yang bukan pada tempatnya. Heh.

Masalah akan meraksasa tatkala kita ciut sebelum melawannya. Jadi buat apa saya bikin setan girang dengan kegelisahan saya, ah ini baru masalah biasaaaa...! Masalah di depan masih banyak yang harus diselesaikan tauk! Bahkan mungkin lebih berat! Dan lebih urgen. Makanya saya berani mereduksikan nilai masalah baru ini.

Beberapa jam kemudian, sms masuk. Tertera di LCD, Abah.
"Dompet kamu diantar orang di rumah di Banjarmasin, abah antar ke Banjarbaru kah?"

AlhamduliLlah.. Dan saya tak perlu merepotkan orangtua karena keteledoran saya sendiri.. Lebih syukur lagi, karena sebelumnya, teman saya yang tadi, nraktir saya makan siang setelah sebelumnya nyeletuk, "Membari maras nyawa nih, unda bayari makan nah.." Haha, whatever you say lah, tengkyu brad!

Kamis, 21 April 2011

Budaya, Agama dan Islam

Di sebuah perkuliahan kami tersentak dengan pertanyaan yang diluncurkan dari mulut dosen baru kami yang tak lebih dari hitungan jam kami mengenalnya. 
“Apakah agama itu merupakan bagian dari budaya?” 
Ini berangkat dari pertanyaan beliau sebelumnya mengenai apa itu budaya lalu dijawab oleh kawan-kawan bahwa budaya itu, intinya, adalah hasil dari pemikiran manusia sebagai makhluk yang berotak. Maka kalau dihubungkan dengan ini, pertanyaan mengejutkan yang saya tulis di awal tadi bisa diartikan sebagai ‘apakah agama merupakan hasil pemikiran manusia?’ Dan di benak saya lebih jauh saya terjemahkan sebagai ‘apakah Tuhan itu hasil pemikiran manusia?’ Karena agama secara umum merupakan ajaran yang datang dari Tuhan melalui utusan.
Dan itu pula jawaban yang coba diajukan kawan-kawan saya. Mereka menolak agama hasil pemikiran manusia dan lebih senang menuturkan agama itu berasal dari Tuhan. 
“Apa buktinya?” Dosen kami memancing lagi. 
“Al-Qur’an buktinya, Pak”. 
“Lalu.. apa bukti al-Qur’an berasal dari Tuhan?”

.