Pages

Rabu, 05 Februari 2014

Menetapi


Matahari baru beranjak dari timur. Hitam berangsur menjadi biru kelabu untuk kemudian putih. Ia menyusuri jalan. Menyeksama keadaan. Bunga-bunga dicerabut dengan paksaan. Kelopaknya berhamburan. Bukit-bukit berlubang. Hijau dulu tinggi menjulang. Sekarang hilang ditebang secara serampangan. Anak-anak menjadi pengamen jalanan. Yang lain kelaparan. Jutaan terbunuh tertembus timah tajam. Pertarungan tak seimbang. Berdalih dengan berbagai alasan. Selalu ada meski tak logis untuk dipikirkan.

Ia tak peduli. Terus menyusuri jalan. Pemandangan kembali berulang. Semakin menjadi-jadi tanpa kompromi. Bergulir melindas siapa saja yang tak mampu bertahan. Ini hukum rimba. Tapi ini manusia. Inikah kehidupan? Dimana Tuhan?

Ia ditarik ke dalam sebuah ruang diskusi. Berbagai logika keapatisan dilucuti. Badai terjadi di otak. Ini bukan doktrin yang memaksanya untuk memberontak. Tersenyum. Inilah jawaban.Tak terbatas pada segelintir kalangan. Kesadaran. Perubahan hakiki. Revolusi.

Ia merasa baru kali ini bebas. Semua belenggu telah terlepas. Termasuk jerat-jerat rutinitas. Tak peduli dalam genggaman terasa panas. Bahkan berimplikasi keringat dan nanti darah, mengucur deras. Namun kali ini bebas. Dan ingin menjadi pembebas.

Matahari kembali pulang ke barat. Seakan tak bertanggung jawab menjadikan langit jingga untuk kemudian hitam. Segelas kopi dihidangkan. Menemani untuk kembali menyeksama keadaan. Malam itu menyiksa. Ia berpikir apa yang diusahakannya selama ini sia-sia. Semua tak sesuai dengan bayangan idealnya. Tak ada yang peduli dengan itu. Pun gerombolan yang tumpah ruah di jalan, berseliweran meramaikan malam. Menyaksikan mereka ia menjadi kasihan.

Sebentuk makhluk bernama sahabat mengingatkannya. Untuk tahu ia melakukan sesuatu sejatinya demi apa. Di titik itu ia kembali menemukan ketenangan. Bahwa ia harus terus tersenyum dan melawan. Bahwa akhir itu kelak akan lebih baik dibanding awal, jika manusia mengetahui.

0 komentar:

Posting Komentar

.