Pages

Kamis, 03 Juni 2010

Individualisme Individual dan Nasional

Omong kosong besar jika ada seseorang yang merasa mampu hidup sendiri di dunia ini. Memang, tak ada orang yang mau mengaku seperti itu, sebab kita sedari dulu dicecoki dengan pelajaran bahwa manusia itu hakikatnya ialah makhluk sosial. Kita tak mampu berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan agar mampu bertahan hidup. Kita perlu bersosialisasi. Namun faktanya sekarang secara tersirat sudah banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan terhadap teori tersebut: orang menganggap mengurus dirinya sendiri lebih penting dari hal lain, diri sendiri adalah yang paling utama.


“Urus dirimu sendiri! Urusan saya saja masih banyak yang belum kelar.!” Bukankah secara tak langsung pernyataan ini menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk sosial tadi?

Kita ambil contoh sederhana saja. Dalam profesi dan pekerjaan apapun rasanya tak ada yang tidak membutuhkan kontribusi orang lain dalam keberlangsungan profesi tersebut. Seorang polisi lalu lintas sekuat apapun akan sulit mengatur padatnya lalu lintas yang makin hari makin semrawut tanpa bantuan pembuat lampu lalu lintas, para konstruktor jalan raya dan pemancang rambu-rambu. Seorang petani akan sangat kerepotan dalam memberantas hama wereng yang menggerogoti padinya tanpa adanya pestisida semprot buatan orang lain. Buruh angkut bahkan akan kelaparan seandainya tak ada orang yang ingin menggunakan jasanya.

Maka pernyataan seperti urus diri sendiri dulu tanpa menghiraukan kepentingan orang lain sepertinya terdengar konyol karena untuk mengurus kepentingan pribadi kita pun sangat tergantung dengan adanya kerjasama dengan pihak lain.

Salah seorang yang saya hormati pernah berkata tanpa saya paham lebih dalam maknanya: “Profesi kita ini adalah profesi individu..” dan saya juga pernah mendengar kalimat seperti ini dari teman saya: “Kita dididik untuk menjadi seorang individualis.”

Saya kurang mengerti apa itu profesi individu secara kongkrit. Namun, dididik menjadi individualis? Saya rasa tidak. Contohlah dokter bedah. Mampukah dokter bedah yang hebat sekalipun mengoperasi pasiennya tanpa bantuan para perawat dan asistennya? Sulit. Apalagi ini yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia. Maukah seorang dokter bermain-main dengan egonya sementara ia tahu itu artinya ia pun juga mempermainkan hidup seseorang?

Dan sampai sini saya memahami individualisme adalah paham sampah yang membuat orang yang memakainya ikut menjadi sampah pula. Karena untuk apa ada orang yang berada ditengah-tengah kita namun ia tak menganggap keberadaan kita karena hanya dianggap mengganggu kepentingannya? Yah, kasarnya seperti itu. Berhubung kesepakatan yang dulu berbunyi bahwa yang namanya manusia itu saling bergantung satu sama lain, maka saat ini kita pasti sepakat bahwa individualisme bukanlah nilai yang tepat untuk manusia. Jadi, manusia penganut individualisme tak layak lagi berpredikat manusia sebab ia memakai nilai yang bukan nilainya manusia.

Agak melenceng sedikit mungkin. Beberapa orang ada yang mau bekerjasama dan saling membantu dalam beberapa hal. Namun, itu lebih dikarenakan mereka perlu. Karena mungkin ada manfaat dari sinergisitas tersebut. Nah, bagaimana jika menolong orang yang memerlukan bantuan kita, namun kita sendiri tak ada keperluan dengannya dan itu tak ada manfaatnya bagi kita? Akan sulit kita lakukan jika tak ada suatu rasa bernama tenggang rasa.

Individualisme sepertinya berkembang dan tumbuh pesat karena menipisnya tenggang rasa ini. Menempatkan diri hingga kita seolah-olah berada pada kondisi yang dialami orang lain, itu sepertinya mudah namun kenyataannya banyak orang malas melakukannya. Padahal bila kita mampu melakukannya maka akan mudah bagi kita menghargai orang lain dan menolong, tanpa berpikir lagi adakah manfaat yang bisa kita petik dari perbuatan kita dalam memberi pertolongan. Dan akidah kita mengajarkan bahwa manfaat itu tak hanya bersifat duniawi namun ada manfat yang lebih nikmat yang akan kita rasa kelak. Kita percaya itu, kan?

***

Ketika para manusia yang sama seperti kita dibantai secara bengis di belahan dunia lain, oleh para manusia yang sama seperti kita juga (namun telah kehilangan hampir seluruh nilai-nilai kemanusiaan pada diri mereka hingga saat ini mereka lebih layak disebut binatang), maka kita akan merasa terusik. Tapi, bagaimana jika ada yang berkomentar: “Ah, itukan urusan Negara mereka. Urusan Negara kita masih banyak, untuk apa kita mengurusi urusan Negara lain?” Dan ini fakta, kawan. Bahwa masih ada ‘manusia’ yang seperti itu.

Kasus seperti ini adalah kasus individualisme dalam cakupan lebih besar. Saya menyebutnya individualisme nasional. Bahasa yang lebih familiar di telinga kita adalah nasionalisme. Mirip seperti individualisme individual, orang yang menganut individualisme nasional lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya sendiri; tanpa memperhatikan kepentingan nasional bangsa lain. Pokoknya kepentingan nasional nomor satu, segala-galanya, bahkan diatas kepentingan hubungan sakral manusia dengan Penciptanya terkadang.

Individualisme nasional telah menipiskan rasa tenggang rasa antar bangsa. Seseorang tak lagi ikut merasakan penderitaan saudara seakidahnya hanya karena sekat-sekat yang membatasi bangsa-bangsa. Individualisme nasional pula yang memecah belah umat manusia yang seharusnya mampu bersatu (karena dulunya memang pernah bersatu).

Atas nama individualisme nasional juga, para mufti dan ulama besar bahkan menghalalkan pembangunan tembok raksasa pembatas Mesir-Gaza, padahal itu sama saja membuat jutaan rakyat di Gaza terisolir sama sekali dari dunia luar. Ribuan nyawa terancam melayang akibat kelaparan dan rakyat Gaza tak mampu memperbaiki keadaan mereka (setelah terporakporandakan oleh kebengisan Israel) sendirian, sementara tembok yang ukurannya dua kali lipat dari tembok besar Jerman itu mengurung manusia hingga menjadi seperti hewan yang terpenjara dalam sangkar. Bantuan kemanusiaan yang ingin diantar ke sana pun ikut terhalang. Mohon maaf, saya kira orang yang menghalalkan kekejaman ini tak pantas menyandang gelar ulama dan mufti, sebab mereka lebih seperti orang munafik yang pengecut.

Nah, sama dengan individualisme individual, individualisme nasional juga sampah. Bahkan ini sangat berbahaya, karena sampah ini mengandung kuman beracun yang mematikan rasa kemanusiaan suatu bangsa. Memang individualisme nasional bukanlah paham yang memanusiakan manusia. Selain itu sampah ini dapat digunakan sebagai tameng alasan untuk melindungi kepengecutan para penguasa. Ya, bukankah salah satu alasan mengapa mereka tak mengirimkan bantuan militer langsung kepada saudara mereka yang dibantai adalah ‘tak boleh mencampuri urusan nasional bangsa lain’?

Sudah saatnya kita membuang segala individualisme yang merusak dengan segala embel-embelnya. Kita tak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, dan kita takkan mampu mengembalikan kejayaan kita apabila kita tak mau bersatu cuma karena alasan egoisme kebangsaan. Padahal rasa kebangsaan itu juga lahir dari sisa-sisa penjajahan fisik: batas Negara Indonesia contohnya, yang terbentuk cuma karena itu bekas batas wilayah jajahan Belanda.

0 komentar:

Posting Komentar

.