Pages

Sabtu, 22 November 2014

Agama Adalah Candu

Ketika dalil-dalil agama menjadi legitimasi untuk membenarkan kelemahan pemeluknya, sehingga mereka merasa senang untuk tetap diam meski kezaliman melanda mereka, maka tak ada yang salah dengan pernyataan 'agama adalah candu'.Ya, candu. Terasa menyenangkan dan menentramkan padahal sesungguhnya merusak.

Apakah Islam seperti itu? Sepertinya akan menjadi iya, jika kita menerapkannya hanya secara parsial. Seperti, ketika harga BBM dinaikkan pemerintah muncul alasan, "rezeki dari Allah", "ini sudah takdir", "sabar disayang tuhan".

Atau malah mengokohkan kezaliman penguasa, mencari pembenaran atas diamnya diri, dan mencela mereka yang bergerak (menyadarkan bahwa ada hal yang salah & melakukan perubahan). Munculah pembenaran dengan ayat2 suci hingga hadist nabi: "taatilah ulil amri", "dilarang suudzon terhadap penguasa", "haram memberontak", dsb.

Sayang sekali, saya berharap mereka yang menyuarakan itu tidak bermaksud mengebiri ajaran Islam tentang kewajiban mengingatkan penguasa ketika mereka salah. Saya juga berharap mereka tidak sedang melegitimasi kemalasan mereka untuk bergerak mencegah kemungkaran. Dan saya tentu sangat berharap, mereka tidak sedang berusaha (seperti yg sy tulis sebelumnya) untuk mengokohkan penguasa serta sistem yg zalim ini.

Sy memang masih belajar, berusaha dengan keras di tengah compang-campingnya amal2 sy, untuk memahami Islam. Tapi sungguh dalam lubuk hati yang terdalam sy tidak rela jika Islam yg mulia ini, yg seharusnya menjadi sumber kekuatan kita, malah direduksi ajarannya hingga menjadi seperti candu. Bukankah candu itu adalah bentuk pelarian dari kelemahan & ketidakpercayaan diri, yg membuat pemakainya merasa lebih tenang?

“Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa dzalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya”. [HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy]

0 komentar:

Posting Komentar

.