Pages

Jumat, 26 Agustus 2011

Aneh

Ia buka pagar dan serta merta dilangkahkan kakinya keluar. Saat itu matahari tengah tinggi-tingginya dan begitu percaya diri menampakkan wajahnya, tak ada awan yang menutupi keangkuhannya barang sedikit saja. Tapi Bejo tetap berjalan. Bejo tak takut dengan matahari. Sebab matahari bukan tuhan. Ibrahim as telah menunjukkannya, sejarah itu tersimpan dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.

Seruan kebesaran ar-Rahman berkumandang beberapa menit sebelum itu. Bejo hanya mencoba memenuhi panggilan mulia. Ajakan untuk mendirikan shalat serta meraih kemenangan.

Dalam perjalanannya Bejo sempat saja berkontemplasi. Mengapa orang yang sering ke masjid saat ini identik dengan orang alim dan ahli ibadah? Setidaknya itu persepsi kebanyakan orang sekarang. Padahal itu aneh. Bukankah orang yang ke masjid, mencoba mendekatkan diri kepada Rabbnya sebenarnya orang yang paling takut akan banyaknya dosa yang dimilikinya? Maka ia melobi Allah swt, agar proposal permintaan penghapusan dosa dan permohonan izin bertemu dengan-Nya di surga dapat diterima. Bejo kira orang yang jarang dan enggan ke masjid untuk beribadah sebenarnya dialah yang hebat. Karena mungkin dirinya merasa sudah bergelimang pahala sehingga berpikir tak perlu lagi berepot-repot menambah pundi-pundi amalnya. Entahlah, banyak faktor dan tak bisa disimpulkan begitu saja kan.

Beberapa saat kemudian masjid itu telah berdiri gagah dihadapan Bejo. Tentu bukan masjid yang mendatangi Bejo dengan sendirinya. Sebab ia tak bisa berjalan. Artinya Bejo sudah sampai ke tempat yang ingin dituju. Masa begitu saja kau tidak tahu.

Dan ada hal yang aneh lagi. Di halaman masjid itu tertanam tiang tinggi yang diujungnya terpasang selembar kain berwarna dua. Berkibar-kibar bendera itu disapa angin. Oh ya ini Agustus. Tapi tetap saja aneh. Masjid identik dengan Islam. Bendera identik dengan nasionalisme. Dan nasionalisme identik dengan terceraiberainya umat Islam. Aneh bukan? Dan lagi, apakah memasang benda itu bisa mendatangkan pahala?

Bejo ingat tak pernah terpancang kain itu di halaman rumahnya hingga kini, setelah beberapa hari lewat tanggal yang katanya hari kemerdekaan itu. “Syukurlah keluargaku di rumah tidak terlalu nasionalis. Begitu juga aku, apalagi.” Pikir Bejo.

Dan tak mau ambil pusing lebih lanjut Bejo mengambil air wudhu. Sehabis shalat berjamaah Bejo melaksanakan shalat sunnah ba'diyah dzuhur. Pada sujud terakhir ia berdoa, semoga rakyat Indonesia sadar dari rusaknya paham nasionalisme, sadar bahwa kemerdekaan yang dirayakan seringkali dengan ritual kerupuk dan karung itu hanyalah mitos saat ini, dan sadar untuk kembali kepada syari’at Allah serta memperjuangkan ideologi Islam sebagai ideologi pembebasan. Ideologi yang memerdekakan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan kepada Gusti ALLAH semata.

0 komentar:

Posting Komentar

.