Pages

Sabtu, 04 Februari 2017

Pembeda Kualitas


Ada sebuah 'quote' yang sangat menarik dari seorang narapidana, saat saya bertugas di LP untuk melakukan skrining kesehatan bagi terpidana kasus narkoba. Di tengah pemeriksaan salah satu napi yg masih muda berkata kepada saya,
"Pak, jangan anggap kami ini penjahat, kami ini sesungguhnya hanya orang-orang yang tersesat.."
Karena diucapkan dengan nada setengah bercanda, saya pun tertawa dan berkata, "Iya..."
Tentu saja saya tidak bisa berbincang lebih lama, karena masih ada antrian napi lain yang menunggu diperiksa. Setelah selesai dan beres-beres kami pun diantar pulang oleh petugas dari Kemenkumham.
Ini baru pertama kalinya saya memasuki lapas dan berinteraksi langsung dengan narapidana. Lapas di sini sangat luas dengan areal yang bisa menampung sampai 3000an napi, dikelilingi pagar pembatas dengan tinggi 8 meter dan kawat berduri di atasnya.
Sebelum pemeriksaan, saya & senior sempat berbincang-bincang dengan petugas. Senior saya sempat bilang ada perasaan ngeri & takut. Saya bertanya, apakah ada kasus napi yang berkelahi & jadi beringas di dalam lapas. Petugas menjawab pernah menemuinya beberapa kali.
Namun kesan menyeramkan itu sirna saat kami berinteraksi langsung. Tidak sedikit memang yang bertato, bertindik dan terlihat 'sangar'. Tapi ternyata mereka sangat koperatif bahkan ada yang suka bercanda. Ada yang mengaku sempat takut masuk ruang pemeriksaan karena dikira akan disuntik.
Setelah pulang dari sana, saya memikirkan lagi 'quote' dari napi di atas. Saya teringat sebuah perkataan, bahwa menyadari kesalahan adalah langkah awal untuk memperbaiki diri. Seorang terpidana yang menyadari dirinya tersesat, tentu lebih baik daripada pendosa yang selalu melakukan pembenaran atas kesalahan yang ia lakukan.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.
Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766.)
Mengingat hadis di atas, kembali membuat saya berpikir, bahwa saya tidak pantas merasa diri lebih baik bahkan dibanding para penghuni prodeo tadi. Semua manusia memiliki kesamaan, pernah melakukan kesalahan. Keberanian dalam mempertanggungjawabkan adalah hal yang membedakan kualitas mereka.
Puskesmas Cempaka Banjarbaru,
Hujan gerimis

Jumat, 20 Januari 2017

Peperangan adalah Keniscayaan



Ada dialog yang menarik dalam sebuah scene film serial Sherlock Holmes, antara Sherlock dengan sahabatnya yang seorang dokter, John Watson. John yang merupakan veteran perang mengalami gangguan psikologis pasca kembali ke kehidupan damainya di London. Ia sering gelisah dan memiliki gangguan tidur sehingga rutin konsultasi ke psikolog yang mengiranya terkena semacam sindrom pasca traumatik akibat peristiwa mengerikan yang pernah dialaminya dalam peperangan. Hingga suatu hari, John bertemu Sherlock yang berhasil memunculkan suasana ‘peperangan’ baru dalam hidupnya, John kembali ‘sehat’ sehingga Sherlock menyimpulkan padanya, “Kau bukannya trauma terhadap peperangan.. kau merindukannya.”

Di kehidupan nyata, apakah peperangan merupakan hal yang paling dihindari manusia? Atau justru sebaliknya, dinantikan segelintir atau bahkan banyak orang?

Konflik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan manifestasi terbesarnya adalah perang. Maka, peperangan adalah keniscayaan yang senantiasa mengiringi sejarah manusia. Sehingga, bisa jadi orang-orang yang melulu bicara kedamaian dan menafikan peperangan sama sekali, mereka adalah orang yang naïf. Meski tentu saja tidak semua konflik harus diselesaikan dengan kekerasan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah pun mengakui, bahwasanya “Perang dan berbagai macam pertempuran tidak berhenti terjadi pada manusia sejak Allah menciptakannya... Perang adalah hal biasa pada manusia, yang tak satu pun bangsa atau generasi terhindar darinya.”

Kalau kita menilik kicauan Nietzsche dalam Sabda Zarathustra, naluri peperangan sebagai bagian tak terpisahkan dari diri manusia disampaikannya secara lebih radikal lagi. Seolah-olah Nietzsche menyatakan bahwa kita memang harus selalu hidup dalam kondisi berperang.
“Kalian akan mencintai perdamaian sebagai jalan menuju perang yang baru – dan lebih baik perdamaian yang pendek daripada yang panjang… Orang bisa duduk diam dan tenang ketika ada panah dan busur di tangan; jika tidak, kalian akan beradu mulut dan bertengkar. Jadikan perdamaianmu sebuah kemenangan! Kalian berkata, tujuan baik akan mensucikan sebuah perang! Aku katakan kepadamu, sesungguhnya perang yang baiklah yang mensucikan semua tujuan. Perang dan keberanian telah melaksanakan lebih banyak hal besar daripada cinta sesama. Bukan belas kasihanmu, tapi keberanianmulah yang menyelamatkan para korban.”

Pada dasarnya manusia memiliki fitrah berupa naluri mempertahankan diri untuk melindungi eksistensinya. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mengistilahkannya dengan gharizatul baqa. Oleh karena itu sebagian dari kita berpotensi menentang bahkan membenci peperangan sebab kita sudah melihat betapa kejamnya peperangan yang di dalamnya terdapat saling bunuh, menumpahkan darah sesama manusia.

Allah SWT sendiri yang memerintahkan berjihad, sudah mewanti-wanti dalam surah Al-Baqarah Ayat 216: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Naluri mempertahankan eksistensi sebenarnya juga dapat memicu terjadinya peperangan. Perluasan dari gharizatul baqa sepertinya adalah keinginan menguasai, mendapatkan yang sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya. Kita tentu ingat dengan motivasi penjajah Barat dulu dalam mengekspansi wilayah dunia yakni gold, glory disamping gospel.

Tentu saja ada yang menguasai, berarti ada yang dikuasai. Inilah yang tampaknya memunculkan penjajahan, penjajah dan pihak yang dijajah. Naluri mempertahankan diri yang dimiliki pihak yang akan dikuasai takkan membiarkan serta merta dirinya dijajah. Maka terjadilah konflik: peperangan.
Ibnu Khaldun memaparkan bahwa asal mula terjadinya perang adalah adanya keinginan sebagian manusia untuk menghancurkan sebagian yang lain. Penyebab keinginan menghancurkan tersebut kebanyakan berupa empat hal, yaitu: ketersinggungan atau persaingan, penganiayaan, kemarahan karena Allah dan agama-Nya, atau kemarahan demi membela kekuasaan dan usaha untuk mempertahankannya.

Jika memang peperangan adalah keniscayaan, Islam sebagai ideologi yang sempurna tidak hanya memerintahkannya namun juga mengaturnya. Islam tidaklah menjadikan penganutnya sebagai penggila perang yang mencari-cari musuh untuk sekadar memuaskan naluri belaka.

Menurut Taqiyuddin an-Nabhani jihad didefinisikan secara syar’i sebagai mencurahkan kemampuan untuk berperang di jalan Allah secara langsung, atau dengan bantuan harta, pemikiran, memperbanyak perbekalan, dan lain sebagainya. Maka berperang untuk sekedar memuaskan keserakahan demi meraih kekuasaan, harta ataupun materi lainnya bukanlah jihad.

Pada dasarnya Islam sangat menghormati nyawa manusia. Memelihara kehidupan seorang manusia adalah seakan-akan memelihara kehidupan semua manusia dan sebaliknya, membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan syara adalah seakan-akan membunuh semua manusia (Al Maidah [5]: 32).  Ancaman neraka dan laknat Allah ditujukan bagi pembunuh orang yang tak bersalah secara sengaja (An-Nisaa [4]: 93). Hukuman yang layak di dunia bagi pembunuh adalah balas dibunuh sesuai hukum qishosh. Inilah ketegasan hukum Islam dalam memelihara jiwa, untuk menimbulkan efek jera agar tidak bermain-main dengan nyawa.

Kondisi yang mewajibkan umat Islam untuk berperang adalah ketika dakwah Islam yang disampaikan dengan cara baik-baik dirintangi secara fisik, yakni terdapat pasukan musuh yang mengancam akan memerangi kaum muslim (An-Nisaa [4]: 91). Kondisi lain adalah perang melawan orang-orang murtad, pemberontak atau pengacau keamanan yang merongrong negara Islam, perang dalam mempertahankan kemuliaan umum maupun khusus, perang melawan kezaliman penguasa kafir, dan melawan perampas kekuasaan Khalifah yang sah. Perang dalam konteks tersebut dapat terlaksana secara optimal ketika negara Islam (Khilafah) sudah tegak, sehingga ada Khalifah yang memimpin kaum muslim untuk mengatur segala hal penting terkait peperangan.

Etika peperangan dalam Islam setidaknya tergambar dari khutbah Muhammad al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel. Beliau mengatakan, “…wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran.”

Saat belum dituntut untuk mengangkat senjata mempertaruhkan nyawa, setidaknya kita pun tengah menghadapi peperangan sengit yang juga membuat tegang urat di dahi, yakni perang pemikiran sebagai bagian dari konflik antar peradaban. Sebagaimana tesis Samuel Huntington dalam “Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia”, hegemoni dan arogansi Barat dalam menyebarkan ideologi liberalismenya mendapat tantangan (salah satunya) dari Islam, selepas kolapsnya sosialisme Uni Sovyet.

Perang ide bukan sekedar wacana karena kita dapat menyaksikannya langsung dalam perdebatan di media sosial, propaganda media massa, mimbar-mimbar politik atau seminar hingga melalui tayangan hiburan sinetron, film, stand up comedy atau video klip dan lirik musik. Mungkin bagi kita yang menafikannya sendiri tak sadar, bahwa melalui itu semua kita direcoki dengan pemikiran liberal seperti pengakuan terhadap hak-hak LGBT, persetujuan peredaran miras, kebebasan berbusana, pelaziman terhadap seks bebas dan sebagainya.

Yang tak kalah penting, kita tak boleh mengabaikan peperangan yang terdekat dari diri kita. Sesungguhnya pertarungan terbesar adalah pertarungan melawan monster dalam diri, mengendalikan hawa nafsu yang seringkali membutakan kita akan tujuan akhir diciptakannya manusia di dunia.

Sabtu, 30 April 2016

KEBERANIAN SEORANG LELAKI

Malam itu, seorang pasien membuyarkan kantukku. Seorang anak yang tampak begitu pucat, diantarkan oleh serombongan keluarganya. Dari keadaannya aku tahu tingkat keparahan penyakitnya, namun dari gurat wajahnya aku paham akan derajat ketabahannya.
“Kata dokter ortopedi, sekitar satu tahun lalu, ia divonis menderita kanker tulang.” Bapaknya memberitahuku. “Dan kakinya harus diamputasi, tapi ia tidak mau.” Osteosarkoma, sepertinya adalah keganasan yangmenggerogoti tulang pahanya. Amputasi tentu saja adalah upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawanya, kaki palsu mungkin dapat membantu nanti. Tapi keputusan adalah hak prerogatif pasien. Anak itu berumur 15 tahun. Aku paham bagaimana perasaannya tentang masa depannya.
Saat itu di hadapanku terbaring seorang anak yang kankernya semakin parah, benjolan yang diameternya hampir setengah meter menggerogoti pahanya, bernanah dan berdarah-darah. Anak itu tampak sesak, saturasi oksigennya turun, ia tampak kepayahan.
“Sepertinya sel kankernya sudah menyebar ke paru-paru,” ucapku lirih kepada bapaknya. Sang ayah menghela nafas, dan berujar “Kami sudah siap dok untuk kemungkinan terburuk. Hanya saja, sebenarnya keinginan anak itu untuk bertahan hidup, rasa optimisnya sangat besar..” Beliau lalu menceritakan tentang kegigihan sang anak yang lebih memilih kemoterapi, namun karena keterbatasan biaya dilanjutkan dengan obat-obatan herbal, demi mendapat kesembuhan.
Aku menghampiri anak itu yang tampak terengah-engah, dan bertanya –yang lebih kepada pertanyaan retoris, “pahanya sakit, dek?” Aku sedikit terkejut saat ia menjawab, “Nggak, ini sama aja seperti kaki yang sebelumnya, cuma terasa lebih berat aja karena ada benjolan ini.” Aku terdiam sejenak, lalu melanjutkan anamnesis singkat. Setelah aku beranjak aku melihat adik perempuannya –mungkin sekitar 10 tahunan- menghampirinya, mengajaknya bercengkerama. Sang kakak tersenyum, seakan-akan ia tak pernah merasa sakit, seakan ia ingin meyakinkan adiknya bahwa ia baik-baik saja.
Sebagai tenaga medis mungkin kita bisa menganggap sikap mengabaikan saran dokter untuk pengobatan rasional adalah semacam sikap yang bodoh. Apalagi jika pasien lebih memilih terapi alternatif yang kata kita masih belum jelas evident base nya.
Namun aku lebih menganggap keputusan anak ini lebih merupakan keberanian ketimbang kebodohan. Pilihan yang diambilnya, se-irasional apapun menurut seorang dokter, tetaplah pilihan seorang pasien dan kita harus menghormatinya.
Malam itu aku telah menaruh hormat pada seorang pasien, satu hari sebelum hari ulang tahunnya. Usianya memang belum cukup untuk dibilang dewasa, namun aku menganggapnya sebagai pria sejati, sebab ia telah berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya, dan menghadapi semua risiko pilihannya itu dengan mental baja.

Rabu, 09 Desember 2015

Anatomi Klinis Bidang Muskuloskeletal: Seri Ekstremitas Atas


Pemesanan: 089620981924 (SMS/Whatsapp)

Rabu, 22 Juli 2015

The True Separatist


Ada segelintir kaum muslim yang begitu mencibir orang-orang yang memperjuangkan penerapan hukum-hukum Allah. Menuduh mengancam kesatuan bangsa, memecah belah, anti toleransi dan kalimat pamungkasnya: kalau mau mendirikan negara Islam silakan pergi ke Arab sana. Padahal yang memperjuangkan negara Islam ini ada yang konsisten tanpa menggunakan kekerasan, selalu peduli dengan permasalahan bangsa termasuk selalu berusaha dan bersuara memperingatkan, mencegah separatisme.
Sayangnya, ketika organisasi macam GIDI bercokol di Indonesia mereka toh biasa-biasa saja. GIDI ini berkaitan dengan usaha separatisme Papua, dan begitu arogan sehingga mereka bikin aturan beribadah sendiri seakan-akan posisi mereka lebih tinggi di atas konstitusi. Di daerah dimana mereka mayoritas, agama lain, bahkan sekte agama kristen lain tidak boleh menjalankan ibadah dengan bebas sesuai keyakinan. Kelompok kristen radikal, separatis, anti toleransi ini bukankah jelas mengancam NKRI?
Bahkan ketika insiden pembakaran masjid oleh jemaat GIDI di Tolikara terjadi, segelintir muslim ini malah mengaburkan pandangan umat Islam. Mereka mengutip media-media sekuler liberal dengan dalih sebagai pembanding, menghimbau agar umat Islam jangan terprovokasi, dan sebagainya. Mereka ini sebenarnya berada di pihak mana sih?
Tidak ada kalimat sinis yang sering mereka lontarkan kepada sesama muslim sendiri, semacam 'kalo anda merasa paling benar, merasa cuma agamanya sendiri yang harus dijadikan undang-undang, lebih baik anda keluar dari Indonesyahh!' yang ditujukan buat GIDI.
Oke tentu saja status ini bukan pembenaran kita untuk berlaku sinis-sinisan. Tapi cuma mempertanyakan, begitu sulitkah bagi segelintir orang ini berbuat adil, bahkan kepada saudara muslimnya sendiri?

Selasa, 21 Juli 2015

Konsep Dasar Perbaikan Luka

Bagaimana teknik menjahit luka yang benar? Kapan luka harus dijahit? Apa pilihan teknik yang tepat dalam menjahit luka? Apa saja jenis benang yang sering digunakan dalam menjahit luka? Kapan benang jahit harus dilepas? Apa saja faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka setelah dijahit? Semoga pemaparan berikut dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Artikel ini adalah terjemahan dari Bab Basic Concepts in Wound Repair dalam buku Practical Plastic Surgery yang ditulis oleh Zol B Kryger dan Mark Sisco.

Rabu, 01 Juli 2015

Keabsahan Sejarah Boedi Oetomo

Ahmad Mansur Suryanegara adalah seorang sejarawan Indonesia yang diakui. Karyanya yang mungkin juga adalah magnum opus-nya, "Api Sejarah" sepertinya merupakan bacaan wajib bagi mereka yang ingin mengkaji secara mendalam, atau sekedar pemuas dahaga bagi penikmat dan pecinta sejarah negeri ini. Saya sendiri belum pernah membacanya, saat ini sedang mencarinya. Kalimat sebelumnya hanya kesimpulan saya sendiri setelah membaca beberapa artikel yang merujuk pada buku tersebut sehingga pendapat saya ini mungkin bisa didiskusikan lagi secara lebih objektif bagi sesiapa yang sudah mengkhatamkannya.

Menarik wawancara terhadap Pak Ahmad yang dimuat hasilnya dalam sebuah media Islam (Tabloid Media Umat Edisi 150 1-14 Mei 2015). Beliau mengemukakan telah terjadi distorsi sejarah yang begitu parah di negeri ini, yang mengakibatkan peringatan Hari Kebangkitan Nasional jatuh pada tanggal 20 Mei. Bertepatan dengan tanggal lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908. Sang sejarawan mengungkapkan bahwa sebenarnya organisasi tersebut malah menentang persatuan Indonesia dan menentang Islam. Bahkan pendirinya yang seorang dokter, Soetomo meyakini manusia adalah penjelmaan terakhir tuhan dan ia pun pernah berkata, "Jadi buat apa shalat?"

Sabtu, 20 Juni 2015

Mengenal MERS

Middle East respiratory syndrome (MERS) merupakan penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 2012 di Saudi Arabia. Baru-baru ini MERS telah mewabah di Korea Selatan. Bahkan di Thailand sudah dilaporkan adanya pasien yang tertular penyakit ini.

Sabtu, 30 Mei 2015

Buku "Berkah Berlimpah dengan Bisnis Properti Syariah"

Anda berminat menjadi pebisnis? Saat ini bisnis properti adalah bisnis yang menjanjikan. Namun ingat bahwa bagi seorang muslim, bisnis bukan hanya masalah untung rugi namun juga masalah surga dan neraka. Buku ini akan memberikan anda jawaban bagaimana berbisnis properti yang tidak melanggar rambu-rambu aturan Islam. Anda akan mendapatkan bagaimana tips berbisnis properti tanpa bank, tanpa riba, tanpa asuransi, tanpa akad bermasalah, tanpa tipu-tipu bahkan tanpa modal besar. Benarkah? Sudah banyak ternyata yang membuktikan.

Buku BERKAH BERLIMPAH DENGAN BISNIS PROPERTI SYARIAH ini digagas oleh Rosyid Aziz, developer properti syariah nasional yang sudah melanglang buana di seluruh Indonesia untuk memberikan workshop seputar masalah ini. Anda tentunya penasaran dan ingin mencoba bukan? Segera miliki bukunya, jika berminat silakan hubungi via WhatsApp/SMS/telpon ke 089620981924. Semoga ini menjadi langkah besar anda untuk menjadi pebisnis properti yang sukses dan berkah!


Katarak Senilis

Pendahuluan

Katarak senilis adalah penyakit gangguan penglihatan yang terkait dengan umur yang memiliki karakteristik penebalan progresif dan gradual lensa mata. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab terbanyak kebutaan di dunia. Hal ini patut disayangkan karena morbiditas penglihatan yang diakibatkan katarak yang berkaitan dengan umur dapat reversibel. Oleh sebab itu, deteksi dini, observasi ketat, dan intervensi bedah harus dilakukan dalam manajemen katarak senilis.1

Usia adalah faktor risiko penting untuk katarak senilis. Seiring bertambahnya usia, peluang terjadinya katarak senilis semakin meningkat. Dalam Framingham Eye Study dari 1973-1975, jumlah total dan kasus baru katarak meningkat secara dramatis dari 23,0 kasus per 100.000 dan 3,5 kasus per 100.000, secara respektif, pada individu berusia 45-64 tahun hingga 49,2 kasus per 100.000 dan 40,8 kasus per 100.000 pada individu berusia 85 tahun dan lebih.1

Penelitian oleh Wilmer Eye Institute pada 2004 mencatat bahwa sekitar 20,5 juta (17,2%) orang Amerika berusia lebih dari 40 tahun memiliki katarak dan 6,1 juta (5,1%) berupa pseudofakia/afakia. Jumlah ini diperkirakan mengalami peningkatan hingga 30,1 juta kasus katarak dan 9,5 juta kasus dengan dengan pseudofakia/afakia pada 2020.2

Pada berbagai penelitian terbaru katarak diidentifikasi sebagai penyebab terbanyak gangguan penglihatan dan kebutaan, dengan statistik berkisar antara 33,3% (Denmark) hingga setinggi 82,6% (India). Data yang dipublikasikan memperhitungkan bahwa 1,2% dari seluruh populasi Afrika mengalami kebutaan, dengan katarak sebagai penyebab 36% kebutaan.3,4

Senin, 25 Mei 2015

Statin Dikaitkan dengan Diabetes dan Komplikasinya pada Dewasa Sehat

Penggunaan statin untuk pencegahan primer penyakit kardiovaskular pada orang dewasa yang sehat telah dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes, komplikasi diabetes, dan kelebihan berat badan / obesitas dalam penelitian kohort retrospektif baru yang meneliti individu-individu dalam database selama rata-rata 6,5 tahun.
"Peningkatan risiko diabetes akibat statin sudah diketahui secara umum, namun peningkatan risiko komplikasi diabetes belum dijelaskan sebelumnya," tulis para peneliti, yang dipimpin oleh Ishak Mansi, MD, dari departemen kedokteran, Veterans Affairs (VA) North Texas Health System, Dallas.
Mereka melaporkan temuan mereka dalam Journal of General Internal Medicine dan menyatakan bahwa ini adalah salah satu data pertama yang menunjukkan hubungan antara statin dan diabetes dalam kelompok orang yang relatif sehat.
"Risiko diabetes akibat penggunaan statin telah diketahui, tapi sampai sekarang hal tersebut dianggap karena fakta bahwa orang-orang yang diberi resep statin memiliki risiko medis yang lebih besar untuk mengalami diabetes," kata Dr Mansi dalam sebuah pernyataan VA.

Minggu, 24 Mei 2015

Penyakit Hirschprung

Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan perkembangan sistem saraf usus dengan karakteristik ketiadaan sel-sel ganglion pada kolon distal sehingga menyebabkan obstruksi fungsional.1 Pada tahun 1888 Hirschsprung melaporkan dua kasus bayi meninggal dengan perut yang menggembung karena kolon yang sangat melebar dan penuh massa feses. Penyakit ini disebut megakolon kongenital dan merupakan kelainan yang tersering dijumpai sebagai penyebab obstruksi pada neonatus. Pada penyakit ini pleksus mienterik tidak ada, sehingga bagian usus yang bersangkutan tidak dapat mengembang. Setelah penemuan kelainan histologik ini barulah muncul teknik operasi yang rasional untuk penyakit ini.2
Walaupun kondisi ini telah dideskripsikan oleh Ruysch pada tahun 1691 dan dipopulerkan oleh Hirschprung pada tahun 1888, patofisiologi penyakit ini belum terlalu jelas hingga pertengahan abad ke-20. Saat itu Whitehouse dan Kernohan mendeskripsikan aganglionosis usus distal sebagai penyebab obstruksi pada beberapa pasien.3
Penyakit Hirschsprung juga merupakan kelainan kongenital gastrointestinal yang cukup sering ditemui. Studi potong lintang retrospektif dengan penelusuran rekam medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr.Zainoel Abidin Banda Aceh sejak bulan Januari 2010-Desember 2011 mendapatkan 79 pasien dengan kelainan kongenital anomali gastrointestinal yang terdiri atas bayi laki-laki 74,7% dan bayi perempuan 25,3%. Jenis penyakit kongenital anomali gastrointestinal yang didapat adalah atresia esofagus (2,5%), atresia duodenum (1,3%), atresia yeyunum (2,5%), penyakit Hirschsprung (29,1%), omfalokel (10,1%), gastroskisis (6,3%), volvulus (2,5%), dan malformasi anorektal (45,6%).4

Minggu, 26 April 2015

Rayakan dengan Diam

Rasanya begitu menyesakkan dada
Membaca rangkaian beberapa berita
Pesta bikini anak SMA
Rencana pembangunan lokalisasi di ibukota
Pengasuh ponpes diinjak-injak ditangkap densus 88 begitu saja
Nenek pencuri kayu tak seberapa dihukum penjara dan denda 300 juta
Minuman keras dijual secara terbuka
Dan belum lagi masalah-masalah lainnya..
Apakah ini zaman dimana kita berhak mengatakan
"Integritas dan moralitas? Persetan!"
"Hipokritlah yang berkoar tentang kejujuran dan keadilan!"
"Jangan bawa-bawa tuhan dalam hidup penuh kebebasan!"
Ketika retorika 'jangan munafik' menjadi pembenaran atas kebusukan yang memprihatinkan
Dan seruan kembali kepada aturan Pencipta dianggap radikal, kuno dan tidak toleran
Serta dalih 'perbaiki diri masing-masing saja dulu' begitu mengagumkan
Maka dimana kewajiban saling mengingatkan pada kebenaran berperan?
Dan bilakah saatnya perintah mencegah kemungkaran akan relevan?
Maka jika negerimu di ambang kehancuran
Sesungguhnya cara paling sederhana untuk merayakannya adalah cukup dengan DIAM

Kamis, 02 April 2015

Gerakan Bersikap Proporsional

Dalam beberapa perkara
Substansi lebih penting adanya
Dibandingkan formalitas belaka
Atau gengsi yang dipelihara
Untuk menjalin kebersamaan
Mestikah dengan pesta berbalut kemewahan?
Dengan gelas antik lalu bersulang?
Cukuplah duduk bersama bertukar pikiran
Bahkan di warung sederhana dengan kopi di hadapan
Karena kebersamaan sejati
Adalah saat kita mampu saling berbagi
Ikhlas untuk meraih ridho ilahi
Bersikap proporsional lah
Ketika bergembira secukupnya sajalah
Dengan senyum merekah mengucap hamdalah
Berlebih-lebihan mending tak usah
Sebab masih banyak juga yg air matanya tertumpah
Bahkan merangkak berdarah-darah
Saat bersedih tak perlu menangis menjadi-jadi
Lalu menebar suasana benci
Menyalahkan takdir atau menganggap tuhan sudah mati
Padahal kondisinya masih beruntung sekali
Hidup terus dilimpahi karunia ilahi
Maka cukup bersabar saja dan dinikmati
Dalam hidup di dunia ini
Yang jelas pasti tak abadi
Apa yang sebenarnya kita cari?
Keindahan fisik, harta benda, berbagai gengsi
Bukankah semuanya hanya titipan ilahi?
Yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali
Dan bila itu pasti akan terjadi
Sudah seberapa jauh menyiapkan diri?
Karena hidup tak sekedar menunggu mati.

Banjarmasin, 1 April 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Berpentaslah!

"..mimbar bebas adalah pentas seni yang paling radikal..!"
Mungkin sekitar lima setengah tahun yang lalu, saya terpana dengan kalimat itu, yang dilontarkan seorang aktivis mahasiswa, di sebuah lapangan rumput kampus. Lantang membakar semangat kami yang berhadir di sana.
Tapi tentu saja kami bukan sedang menghadiri sebuah teatrikal. Mereka yang waktu itu beberapa tahun lebih senior, silih berganti menyampaikan orasi. Menyuarakan kebenaran. Berupaya menyadarkan sesiapa yg mendengarnya bahwa sedang terjadi ketidakberesan. Mereka juga menghadirkan solusi, utk manusia yg memegang kendali kebijakan masyarakat luas di seberang pulau sana.
Bagi sebagian orang, mereka takkan memahami untuk apa berteriak-teriak begitu, berkoar-koar bikin berisik. Tapi sama halnya dengan kami yg tidak memahami, mengapa kebanyakan mahasiswa apatis dengan kondisi sosialnya, hanya berkutat dengan buku2 teks yg tebal dan diktat, orientasi studi setengah mati demi ambisi pribadi dan sebagian lain mabuk cinta dalam pacaran, berlomba2 dalam narsis, mencari2 eksistensi dalam berbagai bentuknya. Padahal mereka kuliah disubsidi bahkan mendapat beasiswa dari uang rakyat, ingat APBN negeri ini pemasukan terbesarnya berasal dari pajak (meski ini suatu hal yang konyol mengingat berlimpahnya SDA bumi pertiwi).
Maka, bangkitlah mahasiswa! Jalanan merindukanmu, mimbar bebas menantimu untuk berpentas kembali. Negeri yang kacau balau ini menunggu untuk diselamatkan, dan kalianlah pahlawannya. Peran mahasiswa disamping berkarya semampunya juga bersuara, kitalah penyambung lidah rakyat!
Ingatlah bahwa diamnya kita akan kesalahan yang nyata akan berdampak setidaknya 2 hal: pelaku kesalahan tidak menyadari bahwa yang ia lakukan salah sehingga ia akan tetap melakukan kesalahan; pelaku kesalahan yang sudah tahu ia salah akan semakin sewenang-wenang melakukan kesalahan untuk kepentingannya, karena yang ditindasnya diam saja seakan merelakannya!
Dan kesalahan paling fatal rezim saat ini adalah memberlakukan sistem kehidupan yang mendurhakai aturan Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kedurhakaan ini, harus diluruskan!



Minggu, 25 Januari 2015

Yuk Berhijab (Gue Nggak)

Ini kumpulan tweet Mas Felix Siauw yang saya dapat di akun facebooknya. Bagus sekali buat muslimah yang mau berproses menjadi lebih baik, mulai berhijab dan menyempurnakan hijabnya.

1. innalillahi kita hidup di masa Islam serasa bara api, khsususnya bagi wanita | alhamdulillah, mereka tentu dapat pahala lipat-ganda
2. terutama saat aurat wanita diumbar, seolah bagian dari tuntutan masa | dan yang bersedia menutup aurat bagai benda museum purba
3. salut buat mereka yang mendekap cinta Allah lebih daripada rongrongan nafsu manusia | pecandu dunia yang mengukur hebatnya dari aurat yang dibuka
4. begitulah akhwat-akhwat yang hanya pada Allah takutnya | yang dirindukan pengagum Nabi, dicemburui bidadari surgawi
5. Islam memandang wanita makhluk agung, yang harus terlindung, dengan jilbab dan kerudung | agar terhormat bukan bermaksud mengurung atau memasung
6. karena itulah Rasul menasihati Asma binti Abu Bakar "tak layak wanita yang telah haid terlihat kecuali ini dan ini" (HR Abu Dawud)
7. "ini dan ini" | selagi mengucap, Rasul mengisyaratkan dengan batasan tangan, yaitu wajah dan tangannya, semudah itulah aurat wanita
8. tak hanya menentukan batas aurat wanita, Islam pun menuntun wanita tentang cara memilih pakaian penjaga auratnya | dengan kerudung dan jilbab
9. adapun kerudung, Al-Qur'an menyebutnya khimar | dan ia berhak menutup aurat kepala wanita sampai dengan batas dadanya (QS 24:31)
10. adapun jilbab, begitu sebutan Al-Qur'an, kita mengenalnya baju kurung atau jubah | ia menutup aurat sampai mata kaki (QS 33:59)
11. namun seringkali Muslim kita rancu, menyamakan antara jilbab sebagai kerudung | padahal keduanya berbeda, tak sekandung
12. mengenai batasan jilbab, izinkan kami rangkumkan pendapat Ibnu Katsir, Ibnu Mas'ud dan Ibnu Hazm, tentang apa itu jilbab
13. jilbab adalah pakaian penutup tubuh wanita, yang terulur, tidak berpotongan, tidak tembus pandang, dan tidak menampakkan lekuk tubuh
14. "..perempuan anshar keluar seakan-akan dari atas kepala mereka terdapat burung gagak, karena tertutup selimut" (HR Abu Dawud
15. dari hadits lain juga kita dapatkan bahwa syarat jilbab adalah menutupi mata kaki bagi wanita, tak mengapa bila sampai menyapu jalan
16. dan tambahannya, agar tak terlihat lekuk tubuh saat angin bertiup, atau karena sinar terik, hendaknya wanita juga kenakan mihnah
17. mihnah adalah pakaian yang biasa dipakai wanita di rumah, pelapis bagian dalam | dan bila ia keluar rumah, maka jilbab ditutupkan atas mihnah
18. bolehkah jilbab dan kerudung berwarna selain warna gelap? | bila itu tidak menyolok perhatian pria, dipersilahkan oleh syariah
19. perkenankan pula kami sampaikan keuntungan apa yang didapat akhwat kami yang menghormati dirinya dengan menutup auratnya
20. jelas lebih hemat, ringkas dan cepat | tak perlu sanggul yang memakan waktu dan mahal, tak perlu riasan yang risih
21. dengan menutup aurat, tanda kemajuan peradaban | justru yang tak menutup aurat tertinggal zaman karena menyamai pakaian zaman batu
22. mana yang akan dipilih pria berakal? | produk yang tersegel yang terlindung ataukah yg telah terbuka? pisang goreng atau lapis legit?
23. ini rahasia, pria yg tertarik pada wanita yang taat pada Allah, pastilah pria itu taat pada Allah pula | mengayomi, mengimami, memimpin
24. you're so special, limited edition, mungkin anda termasuk yang sedikit dan dianggap aneh | bukankah penghuni surga itu sedikit?
25. aman dari Allah dgn menutup aurat, ini yang utama | siapa yang merasa aman dari Allah di dunia, Allah janji akan buat dia takut di akhirat
26. subhanallah, camkan peringatan Rasulullah
"ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu (yang pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan, (yang kedua) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian"
(HR Muslim)
27. betul dengan menutup aurat, mungkin kita akan terasing | namun bukankah Rasul katakan Islam datang dan kembali terasing?
28. begitulah bara api di tangan kita, maka Rasul jamin "bahkan (pahala mereka berlipat) 50x org diantara kalian (shahabat)" (HR Abu Dawud)
29. Semoga Allah berikan kemudahan bagi akhwat kami tutupkan auratnya, dan istiqamah bagi yg telah melakukan, dan kesabaran bagi semua
30. lebih sedap dipandang, lebih enak dilihat | lebih jauh dari murka dan neraka dan lebih dekat pada surga dan ampunan, tutuplah aurat
31. dan satu saat dgn bangga anda katakan | "wahai suamiku, Demi Allah, hanya engkau satu-satunya makhluk Allah yang diizinkan menyaksikan aku seutuhnya"

Jumat, 09 Januari 2015

Penatalaksanaan Toksoplasmosis pada Anak



Toksoplasmosis pada anak-anak dapat berupa akut atau kronik dan kongenital atau didapat setelah kelahiran. Toksoplasmosis mengacu pada infeksi simtomatik oleh Toxoplasma gondii, protozoa yang secara luas terdistribusi yang biasanya menyebabkan infeksi asimtomatik pada host yang sehat. 1
Berbeda dari toksoplasmosis pada individu imunokompromis, toksoplasmosis kongenital adalah manifestasi infeksi yang paling serius, akibat transmisi vertikal dari T gondii melalui transplasental dari ibu. Keparahan penyakit tergantung pada usia kehamilan saat transmisi. Gangguan optalmologik dan neurologik merupakan konsekuensi infeksi terpenting dan dapat muncul bahkan ketika infeksi kongenital asimtomatik.2
Fetus, neonatus, dan bayi muda dengan toksoplasmosis kongenital berisiko mendapat komplikasi terkait infeksi, khususnya penyakit retina yang dapat terjadi hingga masa dewasa. Host yang imunokompromis, khususnya yang memiliki defek pada imunitas selular seperti AIDS juga memiliki risiko tinggi untuk penyakit berat.2
Toksoplasmosis kongenital merupakan penyakit yang bisa dicegah. Skrining sebelum kehamilan diikuti dengan titer serial dan konseling yang baik pada wanita dengan titer awal negatif dapat meminimalisir kasus.3
Diperkirakan sekitar 1 milyar orang di seluruh dunia terinfeksi T gondii. Angka tertinggi terdapat di Eropa, Amerika Tengah, Brazil dan Afrika Tengah.2
Berikut akan dibahas lebih jauh mengenai tatalaksana toksoplasmosis pada anak. Selain itu sebelumnya juga akan dibahas mengenai epidemiologi, etiologi, penularan serta manifestasi klinik dari toksoplasmosis.

Jumat, 05 Desember 2014

Mengarahkan Kebencian

Segala sesuatu diciptakan berpasangan, atau berlawanan. Ada rasa cinta, ada benci. Adalah naif tatkala kita mengakui eksistensi cinta, lalu menghiraukan perasaan benci. Sebab konsekuensi mencintai sesuatu sepertinya membenci apa2 yang merusak, mencelakai, bertentangan dgn apa yg kita cintai.

Jika kita mencintai kebenaran, konsekuensinya kita akan membenci kesalahan yang nyata. Namun apakah layak kita membenci sesama manusia yg telah melakukan kesalahan, sementara manusia merupakan tempatnya salah & khilaf?

Ada yg bilang saat kita menyaksikan seseorang melakukan kesalahan maka bencilah perbuatannya, bukan orangnya. Ya, dengan paradigma itu sebenarnya kita tengah mengarahkan kebencian kita dengan tepat. Kita akan mengingatkan orang yg kita cintai -atas dasar kesamaan akidah Islam- agar ia meninggalkan kesalahan yg kita benci.

Namun ada kriteria2 yg mengharuskan kita membenci seseorang, sebagaimana yg Nabi saw sampaikan: 'sesungguhnya orang yg paling dibenci Allah adalah org yg suka menentang (mendebat) perintah Allah' (HR Muttafaq'alaih). Juga, 'sesungguhnya Allah sangat membenci orang yg berbicara dgn hal2 yg tidak menyenangkan pendengarnya dan berbuat keji' (HR at Tirmidzi). Umar bin al Khathab pernah berkhutbah dan berkata: 'barangsiapa di antara kalian menampakkan suatu keburukan, maka kami pun akan mengiranya berperilaku buruk, dan kami akan membencinya karena kejahatan itu.'

Rasulullah saw benar2 teladan yg luar biasa, yg mengajarkan kepada kita bagaimana menyikapi kebencian. Rasul saw pernah berkata kepada Yahudi Khaibar, 'wahai kaum Yahudi! Kalian adalah makhluk Allah yg paling aku benci. Kalian telah membunuh para Nabi dan telah mendustakan Allah. Tapi kebencianku kepada kalian tidak akan mendorongku utk berlaku sewenang-wenang kepada kalian' (HR Ahmad). Begitulah, kebencian harusnya tdk menghalangi kita dari bersikap adil kepada siapapun. Dan adil adalah menempatkan segala sesuatu sesuai timbangan syariah Islam.

Kita juga ingat cerita mengenai jiwa besar Ali ra dalam sebuah perang. Saat itu ia berhasil memojokkan seorang musuh. Ali pun sudah menghunus pedangnya utk mengantarkan nyawa musuhnya itu namun apa yg terjadi? Sang musuh yg sebentar lagi sepertinya akan menghadap maut itu sontak meludahi Ali, dan yg dilakukan Ali pun juga di luar perkiraan. Sepupu rasulullah saw itu terhenyak, menyarungkan pedangnya lalu malah berbalik meninggalkan musuh yg sudah tdk berdaya. Alasannya membatalkan memenggal musuhnya adalah, ia tak ingin niatnya berjihad terkotori oleh kebencian pribadi.

Dan jika ada yg menuding bahwa Islam agama yg mengajarkan kebencian, saya akan mengatakan "ya! Islam telah mengajarkan kepada sy utk membenci pengingkaran terhadap keberadaan & ke-Mahakuasaan Allah.. Islam mengajarkan utk membenci penyembahan manusia kepada sesama manusia, mengajarkan utk membenci kesemena-menaan penguasa trhdp rakyat yg harusnya jd tanggungannya, mengajarkan utk membenci kezaliman, penindasan, keserakahan, dan pelbagai kondisi & sifat yg menafikan aspek manusiawi manusia..! Islam inilah yg membuat sy bangga menjadi pemeluknya, dan sy bangga menjadi fanatik terhadapnya..!"

Selasa, 25 November 2014

Kesendirian yang Diperlukan

Ada waktu untuk sendiri
Tapi tidak lama
Di luar lingkaran hiruk pikuk kota
Menuju guratan lain yang hijau dan penuh estetika
Yang dihiasi orkestra para penghuninya

Ada waktu untuk sendiri
Tapi tidak lama
Kala partikel2 air mulai menyusun embun
Saat hitam bertambah gelap utk kemudian terang
Ketika ayam jantan mulai berdehem menyiapkan kokoknya

Ada waktu utk sendiri
Tapi tidak lama
Dan sungguh sebenarnya tdk ada kesendirian
Selain ada Dia yang selalu memperhatikan

Ada waktu untuk sendiri
Tapi tak lama
Karena ketenangan diperlukan
Dan keheningan dapat menentramkan
Serta pinta butuh khusyu utk dihaturkan

Ada waktu untuk sendiri
Tapi tidak lama
Sebab barisan yg kokoh lebih disukai
Utk menggenggam kemenangan

Sabtu, 22 November 2014

Agama Adalah Candu

Ketika dalil-dalil agama menjadi legitimasi untuk membenarkan kelemahan pemeluknya, sehingga mereka merasa senang untuk tetap diam meski kezaliman melanda mereka, maka tak ada yang salah dengan pernyataan 'agama adalah candu'.Ya, candu. Terasa menyenangkan dan menentramkan padahal sesungguhnya merusak.

Apakah Islam seperti itu? Sepertinya akan menjadi iya, jika kita menerapkannya hanya secara parsial. Seperti, ketika harga BBM dinaikkan pemerintah muncul alasan, "rezeki dari Allah", "ini sudah takdir", "sabar disayang tuhan".

Atau malah mengokohkan kezaliman penguasa, mencari pembenaran atas diamnya diri, dan mencela mereka yang bergerak (menyadarkan bahwa ada hal yang salah & melakukan perubahan). Munculah pembenaran dengan ayat2 suci hingga hadist nabi: "taatilah ulil amri", "dilarang suudzon terhadap penguasa", "haram memberontak", dsb.

Sayang sekali, saya berharap mereka yang menyuarakan itu tidak bermaksud mengebiri ajaran Islam tentang kewajiban mengingatkan penguasa ketika mereka salah. Saya juga berharap mereka tidak sedang melegitimasi kemalasan mereka untuk bergerak mencegah kemungkaran. Dan saya tentu sangat berharap, mereka tidak sedang berusaha (seperti yg sy tulis sebelumnya) untuk mengokohkan penguasa serta sistem yg zalim ini.

Sy memang masih belajar, berusaha dengan keras di tengah compang-campingnya amal2 sy, untuk memahami Islam. Tapi sungguh dalam lubuk hati yang terdalam sy tidak rela jika Islam yg mulia ini, yg seharusnya menjadi sumber kekuatan kita, malah direduksi ajarannya hingga menjadi seperti candu. Bukankah candu itu adalah bentuk pelarian dari kelemahan & ketidakpercayaan diri, yg membuat pemakainya merasa lebih tenang?

“Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa dzalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya”. [HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy]

.