Revolusi telah menjadi tren akhir-akhir ini? Kebosanan rakyat terhadap rezim yang berkuasa di negerinya telah terakumulasi sedemikian rupa. Dan berbagai pergerakan massa yang diklaim sebagai revolusi, menjadi kulminasinya. Rakyat telah muak, merasa realita yang ada sangat jauh dari kondisi ideal yang mereka harapkan. Satu dua mungkin nantinya tiga atau bahkan lebih Negara di Afrika-Timur Tengah sepertinya telah dan bakalan tersapu gelombang revolusi ini.
Di Tunisia, Negara Afrika Utara yang miskin, seorang pemuda penjual sayur telah memicu riak-riak revolusi. Dia seorang sarjana yang karena tak kunjung mendapat pekerjaan, dengan jiwa besarnya tak rela menjadi pengangguran biasa lalu mulai mendorong gerobak sayur berusaha mendapati penghasilan yang mungkin tak seberapa. Namun zalimnya pemerintah di sana, sudah tak menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya, melalui kakitangannya yaitu petugas keamanan, merazia pula dengan paksa gerobak sayur si pemuda dengan alasan tak berizin. Sebagai rakyat kecil ia tak kuasa melawan, pasrah lalu kecewa berat. Ia tulis surat kepada ibunya, sebelum menyulut api kepada tubuhnya sendiri, yang mungkin tanpa ia sadari kematiannya setelah itu akan memantik pula api perlawanan rakyat yang juga sudah muak menyaksikan tingkah pongah penguasa.
Rezim Ben Ali dikenal sebagai rezim diktator yang dibeking oleh Prancis dan Amerika. Kebijakan-kebijakan represif semacam pelarangan jilbab pernah diterapkan oleh rezim ini. Korupsi merajalela di kalangan pemerintahan sementara harga pangan terus meninggi dan angka pengangguran makin meningkat. Presiden Ben Ali yang tak tahan tekanan akhirnya meletakkan jabatannya lalu kabur ke Arab Saudi.
Pages
Menikmati Upaya Revolusi Sebagaimana Menyeruput Secangkir Kopi
Rabu, 02 Februari 2011
Insiden Tunisia-Mesir: Gelombang Revolusi?
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
2/02/2011 07:49:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Senin, 03 Januari 2011
Memulai Tanpa Harus di Awal
Tatkala lembaran kalender tersisa satu lagi yang terakhir, dan bilangan tanggal telah berkepala tiga. Kebanyakan saat ini menyikapi dengan perayaan pergantian tahun, motivasinya untuk meninggalkan segala kegagalan beserta perih duka selama dua belas bulan ini dan menyongsong tiga ratus enam lima hari berikutnya dengan penuh harapan. Atau merayakan tanpa mau tahu tujuannya untuk apa, yang terpikir hanyalah kesenangan sementara. Yang penting malam ini enjoy!
Yah, kita tahu pasti Rasulullah tak pernah mengajarkan hal yang demikian. Bahkan perhitungan tahun hijriyah saja dilakukan pada masa Umar bin Khattab, dan para sahabat dalam sejarah juga tak menyambut dengan istimewa pergantian tahun baru.
"Haaaahhh???" Si Bejo yang sudah siap menyulut kembang api bengong. "Tapi bukankah dengan memperingati pergantian tahun ini kita semakin termotivasi untuk berubah ke arah lebih baik pada tahun berikutnya?" Bejo protes.
Oh no, tidak kawan. Tanpa merayakan tahun baru pun kita sudah punya konsep dalam Islam bagaimana kita harus selalu lebih baik dari waktu sebelumnya. Rasulullah mengajarkannya dengan luar biasa. Bahkan tidak dalam hitungan tahun. Namun, hari! Beliau gambarkan betapa beruntungnya orang yang hari ini keadaannya lebih baik dari hari kemaren. Dan, kita tahu bagaimana Allah bersumpah atas nama waktu untuk menerangkan bahwa manusia pasti selalu merugi. Kecuali jika waktu dimanfaatkannya untuk beriman, beramal shalih, serta saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Yap, konsep-konsep inilah yang harusnya kita jadikan bagian bekal mengarungi kehidupan fana ini supaya kita selalu and always be better than sebelumnya. Bukan konsep di luar dari konteks aqidah kita, yah budaya barat itu maksudnya. Coba sejenak kita berkontemplasi. Betapa waktu berlalu begitu cepat dan semuanya terasa singkat. Rasanya baru beberapa saat lalu kita menyoraki kemenangan Spanyol atas Belanda di Afrika Selatan. Rasanya baru beberapa saat lalu kita mengenakan seragam putih abu-abu dan bolos upacara hari Senin. Sekarang adik kita tinggi tubuhnya hampir menyamai kita, padahal sepertinya baru kemarin dia menangis keras karena kita praktekkan jurus mengunci yang kita lihat di WWF Smackdown pada dirinya (makanya hati-hati dipengaruhi televisi, berbahaya).
Dan tanpa sadar, ketika kita bersorak menyaksikan parade kembang api di malam tahun baru, atau tertawa bahagia tatkala sahabat-sahabat mengucapkan selamat ulang tahun, malaikat maut telah berancang menemui kita (tentunya bukan untuk sekedar say hello, kan). Pertambahan bilangan tahun pada kalender, maupun angka usia kita tak berarti selain ajal dunia ini dan kita (tentunya) semakin dekat. Pastinya kita ingin berakhir dalam keadaan terbaik, kan?
Dan Bejo makin tertunduk dalam. Suasana hening sesaat, dan sejurus kemudian.. Duaaarrrr!!! Bejo menggelepar sambil berteriak kesakitan! Kembang api di tangan Bejo yang sudah tersulut sedari tadi ternyata meletus ke arah dirinya sendiri.. (Adegan berbahaya, kalo gak percaya silakan coba sendiri)
Yah, kita tahu pasti Rasulullah tak pernah mengajarkan hal yang demikian. Bahkan perhitungan tahun hijriyah saja dilakukan pada masa Umar bin Khattab, dan para sahabat dalam sejarah juga tak menyambut dengan istimewa pergantian tahun baru.
"Haaaahhh???" Si Bejo yang sudah siap menyulut kembang api bengong. "Tapi bukankah dengan memperingati pergantian tahun ini kita semakin termotivasi untuk berubah ke arah lebih baik pada tahun berikutnya?" Bejo protes.
Oh no, tidak kawan. Tanpa merayakan tahun baru pun kita sudah punya konsep dalam Islam bagaimana kita harus selalu lebih baik dari waktu sebelumnya. Rasulullah mengajarkannya dengan luar biasa. Bahkan tidak dalam hitungan tahun. Namun, hari! Beliau gambarkan betapa beruntungnya orang yang hari ini keadaannya lebih baik dari hari kemaren. Dan, kita tahu bagaimana Allah bersumpah atas nama waktu untuk menerangkan bahwa manusia pasti selalu merugi. Kecuali jika waktu dimanfaatkannya untuk beriman, beramal shalih, serta saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Yap, konsep-konsep inilah yang harusnya kita jadikan bagian bekal mengarungi kehidupan fana ini supaya kita selalu and always be better than sebelumnya. Bukan konsep di luar dari konteks aqidah kita, yah budaya barat itu maksudnya. Coba sejenak kita berkontemplasi. Betapa waktu berlalu begitu cepat dan semuanya terasa singkat. Rasanya baru beberapa saat lalu kita menyoraki kemenangan Spanyol atas Belanda di Afrika Selatan. Rasanya baru beberapa saat lalu kita mengenakan seragam putih abu-abu dan bolos upacara hari Senin. Sekarang adik kita tinggi tubuhnya hampir menyamai kita, padahal sepertinya baru kemarin dia menangis keras karena kita praktekkan jurus mengunci yang kita lihat di WWF Smackdown pada dirinya (makanya hati-hati dipengaruhi televisi, berbahaya).
Dan tanpa sadar, ketika kita bersorak menyaksikan parade kembang api di malam tahun baru, atau tertawa bahagia tatkala sahabat-sahabat mengucapkan selamat ulang tahun, malaikat maut telah berancang menemui kita (tentunya bukan untuk sekedar say hello, kan). Pertambahan bilangan tahun pada kalender, maupun angka usia kita tak berarti selain ajal dunia ini dan kita (tentunya) semakin dekat. Pastinya kita ingin berakhir dalam keadaan terbaik, kan?
Dan Bejo makin tertunduk dalam. Suasana hening sesaat, dan sejurus kemudian.. Duaaarrrr!!! Bejo menggelepar sambil berteriak kesakitan! Kembang api di tangan Bejo yang sudah tersulut sedari tadi ternyata meletus ke arah dirinya sendiri.. (Adegan berbahaya, kalo gak percaya silakan coba sendiri)
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
1/03/2011 01:24:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Perlindungan
Seperti menutupkan jas hujan pada sepeda motor, untuk melindunginya dari panas ataupun hujan. Jas hujan yang biasa ukurannya tidak sebesar ukuran motor, tentu takkan mampu menutup seluruh bagian sepeda motor itu. Ketika kita selubungkan tepat di tengah, bagian samping motor tersingkap. Rasa cemas muncul, bagaimana kalau hujan datang, tentu knalpot yang letaknya di samping kanan kehujanan dan kemasukkan air. Maka kita tarik jas hujan lebih ke sisi kanan untuk menutupi knalpot. Namun kita lihat mesin sisi kiri terbuka berikut gear dan rantainya. Bukankah jika kena hujan dan panas ia akan cepat karatan? Dan sekarang kita bingung lalu sadar, jas hujan tak cukup besar untuk melindungi motor ini secara keseluruhan dari cuaca yang berubah-ubah. Maka kita akan mencari perlindungan lain, yang lebih menjanjikan keamanan. Masukkan saja ke dalam garasi!
Mungkin begitu juga manusia. Sejatinya kita selalu menginginkan diri kita aman dan senantiasa terjaga dari segala hal yang mengganggu. Bukankah rasa aman yang membuahkan rasa tentram di hati, dan berbagai gangguan menghasilkan rasa gelisah? Kita akan tenang saat yakin diri kita mendapat perlindungan. Terkadang kita ingin berlindung kepada sesama manusia (atau makhluk lain, hehe) yang kita anggap lebih kuat dan mampu menjaga kita. Namun tetap saja perasaan takut tetap ada. Bagaimana jika pelindung kita ini melemah? Bagaimana kalau suatu ketika ada gangguan yang sangat besar ataupun musuh yang lebih kuat datang dan si pelindung ini tak mampu mengatasinya? Atau mungkin dalam kesempatan lain ia lengah? Atau bahkan pergi meninggalkan kita? Pertanyaan yang berkecamuk ini tentu akan membuat kita gelisah.
Maka dari itu, carilah pelindung yang lebih kuat, bahkan yang paling kuat! Yang Maha Perkasa, yang mustahil Dia lemah. Yang Maha Kuasa, segalanya di alam semesta ini, hewan buas, jin, manusia, planet yang berotasi dan berevolusi dengan teraturnya, tunduk dan takut dihadapan-Nya. Yang Maha Mengawasi, tak selembar pun daun gugur tanpa sepengetahuan-Nya. Ia selalu dekat dan ada, bahkan jaraknya lebih dekat dari urat nadi di lehermu. Hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir. Laa hawla walaa quwwata illaa biLlah.
Mungkin begitu juga manusia. Sejatinya kita selalu menginginkan diri kita aman dan senantiasa terjaga dari segala hal yang mengganggu. Bukankah rasa aman yang membuahkan rasa tentram di hati, dan berbagai gangguan menghasilkan rasa gelisah? Kita akan tenang saat yakin diri kita mendapat perlindungan. Terkadang kita ingin berlindung kepada sesama manusia (atau makhluk lain, hehe) yang kita anggap lebih kuat dan mampu menjaga kita. Namun tetap saja perasaan takut tetap ada. Bagaimana jika pelindung kita ini melemah? Bagaimana kalau suatu ketika ada gangguan yang sangat besar ataupun musuh yang lebih kuat datang dan si pelindung ini tak mampu mengatasinya? Atau mungkin dalam kesempatan lain ia lengah? Atau bahkan pergi meninggalkan kita? Pertanyaan yang berkecamuk ini tentu akan membuat kita gelisah.
Maka dari itu, carilah pelindung yang lebih kuat, bahkan yang paling kuat! Yang Maha Perkasa, yang mustahil Dia lemah. Yang Maha Kuasa, segalanya di alam semesta ini, hewan buas, jin, manusia, planet yang berotasi dan berevolusi dengan teraturnya, tunduk dan takut dihadapan-Nya. Yang Maha Mengawasi, tak selembar pun daun gugur tanpa sepengetahuan-Nya. Ia selalu dekat dan ada, bahkan jaraknya lebih dekat dari urat nadi di lehermu. Hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir. Laa hawla walaa quwwata illaa biLlah.
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
1/03/2011 01:15:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
White
Pernahkah kamu lihat dan amati fotomu pada masa kecil dulu, waktu masih seimut-imutnya? Ketika wajah kita masih bersih berseri. Dalam artian sebenarnya tentu saja. Ya iyalah, mungkin belum ada kerumunan jerawat di sana yang bikin wajah kita tak rata, hehe. Tapi bukan hanya dalam hal itu, melainkan juga dalam artian konotatif. Mungkin hanya perasaan saya, tapi saya baru sadar bahwa saya pernah memiliki wajah sepolos itu (memang tampang saya sekarang kayak apa?). Wajah yang masih memancarkan kekhasan anak-anak. Ada yang bilang wajah tanpa dosa. Jika tersenyum atau tertawa nampak sekali itu tulus dari dalam hati, bukan dibuat-buat. Membuat orang disekitarnya merasakan kegembiraan pula. Ingatkah saat kamu tertawa tanpa sebab jelas pada umur hitungan bulan, ibu bapakmu yang mengawasimu turut nyengir juga sambil bergumam, "Kenapa sih anak ini? Lucu sekali.."
Pada masa itu, kita memang hanya seperti kertas putih polos nan lembut. Indahnya warna kita pada awalnya adalah bentukan dari kedua orang tua kita (semoga Allah membalas kebaikan mereka). Beberapa tahun pertama, kita ingat bagaimana kita patuh terhadap segala arahan orangtua kita tanpa pernah banyak tanya. Dengan asumsi waktu itu 'pokoknya ikuti aja, apa kata bapak atau mama, itu pasti benar'.
Masihkah kamu ingat ketika pertama kali mereka memperkenalkan kita kepada Allah, dengan mengajak kita mengikuti gerakan shalat mereka? Atau ketika beliau menceritakan tentang kengerian siksa neraka yang membuat kita bergidik, lalu bertekad sebisa mungkin menghindarinya. Begitu juga pemaparan beliau tentang surga, dideskripsikan dengan bahasa sederhana yang menggugah, membuat kita berucap dengan penuh semangat, "wah, kalo gitu saya mau masuk ke sana!".
Hehe, benar-benar masa yang sangat indah ya? Masa yang di sana, salahnya tindakan kita dianggap lumrah. "Ah, itu karena dia masih kecil, belum tahu apa-apa." Lalu kita diberi pengajaran yang baik setelahnya. Kemudian, di saat kita melakukan kebaikan kecil saja seperti mematikan keran air yang terbuka sedari tadi atau bahkan hanya mengenakan baju sendiri, akan dibalas dengan ucapan "Wah sudah pintar si kecil ini rupanya."
Beranjaklah kita menuju dewasa, suatu takdir yang sebenarnya sangat indah dari Sang Rabb Maha Kuasa. Seharusnya akal kita yang makin sempurna ini turut menyempurnakan pula keindahan warna dasar yang dilukiskan orang tua kita sebelumnya. Akal akan membawa kita semakin mengenal tanda-tanda kebesaran-Nya, semakin tunduk pada-Nya, mengetahui tentang pahala dan dosa, benar dan salah beserta ganjarannya.
Sayangnya, seringkali akal malah berbalik dibutakan oleh hawa nafsu. Sehingga kita menjadi sombong. Kertas lembut berlukis warna dasar yang indah tadi terkotori dan menjadi kasar. Surga dan neraka dianggap seakan hanyalah dongeng yang diceritakan orang tua sebelum tidur, atau untuk menakut-nakuti supaya kita patuh dengan orang tua. Prasangka buruk yang salah, bahkan terhadap saudara sendiri, selalu menghantui pikiran. Seakan lupa dulu orang tua mengajarkan untuk tidak berbohong karena sekarang seringkali tidak jujur dalam ujian. Shalat lima waktu terabaikan. Diajak kepada kebaikan berpikir banyak dulu, anehnya melakukan maksiat tanpa pikir panjang sebelumnya. Nah, yang manakah kita?
Harus diakui, saya merindukan masa sewaktu saya masih kecil itu. Bukan karena pemanjaannya. Namun kepolosan saya waktu itu. Tatkala saya belum mengenal yang namanya hawa nafsu jahat dan kesombongan diri.
Namun, setelah dipikir lagi, bukankah kedewasaan juga merupakan proses yang luar biasa? Pada masa inilah seharusnya kita tahu arti keberadaan kita di dunia. Tak seperti anak-anak yang tak tahu nilai dari perbuatan yang dilakukan, sehingga juga tak merasa puas ketika selesai melakukan kebenaran, kecuali jika dipuji atau dikasih imbalan langsung. Sekarang ketika kita tahu suatu kebenaran dan melaksanakannya kita akan langsung merasa puas, tanpa melihat ada yang memuji atau bahkan mencaci. Karena kepuasan kita disebabkan oleh tahunya kita akan balasan kelak yang setimpal bahkan berkali lipat. Benar seperti itu?
Pada masa itu, kita memang hanya seperti kertas putih polos nan lembut. Indahnya warna kita pada awalnya adalah bentukan dari kedua orang tua kita (semoga Allah membalas kebaikan mereka). Beberapa tahun pertama, kita ingat bagaimana kita patuh terhadap segala arahan orangtua kita tanpa pernah banyak tanya. Dengan asumsi waktu itu 'pokoknya ikuti aja, apa kata bapak atau mama, itu pasti benar'.
Masihkah kamu ingat ketika pertama kali mereka memperkenalkan kita kepada Allah, dengan mengajak kita mengikuti gerakan shalat mereka? Atau ketika beliau menceritakan tentang kengerian siksa neraka yang membuat kita bergidik, lalu bertekad sebisa mungkin menghindarinya. Begitu juga pemaparan beliau tentang surga, dideskripsikan dengan bahasa sederhana yang menggugah, membuat kita berucap dengan penuh semangat, "wah, kalo gitu saya mau masuk ke sana!".
Hehe, benar-benar masa yang sangat indah ya? Masa yang di sana, salahnya tindakan kita dianggap lumrah. "Ah, itu karena dia masih kecil, belum tahu apa-apa." Lalu kita diberi pengajaran yang baik setelahnya. Kemudian, di saat kita melakukan kebaikan kecil saja seperti mematikan keran air yang terbuka sedari tadi atau bahkan hanya mengenakan baju sendiri, akan dibalas dengan ucapan "Wah sudah pintar si kecil ini rupanya."
Beranjaklah kita menuju dewasa, suatu takdir yang sebenarnya sangat indah dari Sang Rabb Maha Kuasa. Seharusnya akal kita yang makin sempurna ini turut menyempurnakan pula keindahan warna dasar yang dilukiskan orang tua kita sebelumnya. Akal akan membawa kita semakin mengenal tanda-tanda kebesaran-Nya, semakin tunduk pada-Nya, mengetahui tentang pahala dan dosa, benar dan salah beserta ganjarannya.
Sayangnya, seringkali akal malah berbalik dibutakan oleh hawa nafsu. Sehingga kita menjadi sombong. Kertas lembut berlukis warna dasar yang indah tadi terkotori dan menjadi kasar. Surga dan neraka dianggap seakan hanyalah dongeng yang diceritakan orang tua sebelum tidur, atau untuk menakut-nakuti supaya kita patuh dengan orang tua. Prasangka buruk yang salah, bahkan terhadap saudara sendiri, selalu menghantui pikiran. Seakan lupa dulu orang tua mengajarkan untuk tidak berbohong karena sekarang seringkali tidak jujur dalam ujian. Shalat lima waktu terabaikan. Diajak kepada kebaikan berpikir banyak dulu, anehnya melakukan maksiat tanpa pikir panjang sebelumnya. Nah, yang manakah kita?
Harus diakui, saya merindukan masa sewaktu saya masih kecil itu. Bukan karena pemanjaannya. Namun kepolosan saya waktu itu. Tatkala saya belum mengenal yang namanya hawa nafsu jahat dan kesombongan diri.
Namun, setelah dipikir lagi, bukankah kedewasaan juga merupakan proses yang luar biasa? Pada masa inilah seharusnya kita tahu arti keberadaan kita di dunia. Tak seperti anak-anak yang tak tahu nilai dari perbuatan yang dilakukan, sehingga juga tak merasa puas ketika selesai melakukan kebenaran, kecuali jika dipuji atau dikasih imbalan langsung. Sekarang ketika kita tahu suatu kebenaran dan melaksanakannya kita akan langsung merasa puas, tanpa melihat ada yang memuji atau bahkan mencaci. Karena kepuasan kita disebabkan oleh tahunya kita akan balasan kelak yang setimpal bahkan berkali lipat. Benar seperti itu?
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
1/03/2011 01:10:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sabtu, 25 Desember 2010
Mereka Cuma Bocah?
Bocah-bocah itu..
Turun menyusuri jalan-jalan
Memungut serpihan reruntuhan bangunan
Bukan sekedar mengisi waktu luang
Namun karena mereka paham!
Arti sebuah perjuangan
Bocah-bocah itu
Tak lagi punya waktu
Untuk bermain dengan kakaknya
Untuk bercengkerama dengan adik kecilnya
Untuk merasakan hangatnya kasih ibu
Untuk mendapat pengajaran sang ayah
Bahkan mereka tak punya waktu
Untuk sekedar menangisi kepergian mereka!
Bocah-bocah itu
Bukanlah bocah-bocah yang hilang harapan
Mereka terus bergerak dan melawan
Tak rela diam kehormatan diinjak, terjajah dan dihinakan
Menuntut hidup mulia atau mati dalam kemuliaan
Bocah-bocah itu
Adalah para prajurit intifadha
Dengan sebongkah batu dan ketapel kayu
Tak pantang menyerah menyerang tank Merkava
Walau tau mana mungkin batu dapat menembus baja
Bocah-bocah itu.
Dalam desing peluru yang setiap saat dapat menembus jantung
Di tengah dentuman bom memekakkan telinga
Di bawah curahan fosfor reaktif yang melelehkan tulang
Memekik polos akan kebesaran Rabbnya
Memejamkan mata untuk terakhir kali dan selamanya
Tersenyum dalam tenang menjemput impian
Penghargaan tertinggi dari Rabb Maha Esa
Menjadi hamba syuhada
(Tatkala keinginan untuk syahid membuncah. Ya Allah, akankah kelak kurasakan atmosfer perjuangan yang sama seperti yang mereka rasakan?)
Turun menyusuri jalan-jalan
Memungut serpihan reruntuhan bangunan
Bukan sekedar mengisi waktu luang
Namun karena mereka paham!
Arti sebuah perjuangan
Bocah-bocah itu
Tak lagi punya waktu
Untuk bermain dengan kakaknya
Untuk bercengkerama dengan adik kecilnya
Untuk merasakan hangatnya kasih ibu
Untuk mendapat pengajaran sang ayah
Bahkan mereka tak punya waktu
Untuk sekedar menangisi kepergian mereka!
Bocah-bocah itu
Bukanlah bocah-bocah yang hilang harapan
Mereka terus bergerak dan melawan
Tak rela diam kehormatan diinjak, terjajah dan dihinakan
Menuntut hidup mulia atau mati dalam kemuliaan
Bocah-bocah itu
Adalah para prajurit intifadha
Dengan sebongkah batu dan ketapel kayu
Tak pantang menyerah menyerang tank Merkava
Walau tau mana mungkin batu dapat menembus baja
Bocah-bocah itu.
Dalam desing peluru yang setiap saat dapat menembus jantung
Di tengah dentuman bom memekakkan telinga
Di bawah curahan fosfor reaktif yang melelehkan tulang
Memekik polos akan kebesaran Rabbnya
Memejamkan mata untuk terakhir kali dan selamanya
Tersenyum dalam tenang menjemput impian
Penghargaan tertinggi dari Rabb Maha Esa
Menjadi hamba syuhada
(Tatkala keinginan untuk syahid membuncah. Ya Allah, akankah kelak kurasakan atmosfer perjuangan yang sama seperti yang mereka rasakan?)
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
12/25/2010 10:01:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 18 November 2010
Mengenal Revolusi (Superficial)
Ketika sesuatu tak berfungsi dan tak berjalan sebagaimana kehendak kita, biasanya kita akan merasa tidak puas dan akan bergerak, melakukan hal yang berguna untuk mengubahnya kembali pada keadaan normal lagi. Tak percaya? Bayangkan seandainya kamu tak bisa kentut seharian saja, karena ada sumbatan di daerah ujung anusmu, bagaimana rasanya? Tentu itu bukan keadaan yang normal bukan? Kamu pasti sangat tersiksa, merasa gelisah bahkan tak bisa tidur memikirkan bagaimana caranya supaya fungsi kentutmu normal kembali. Sampai-sampai kamu kehilangan akal sehatmu, mengambil pisau dapur kemudian mencoloknya ke bagian ‘sana’, dan berteriak ‘auwawawaaw!’. Awalnya pasti sakit, terjadi bleeding dan sebagainya namun ketika sumbatan tadi berhasil dilubangi sehingga ada celah di sana yang membuatmu bisa kentut normal lagi, kamu bakalan merasa sangat lega. Aaahhh…!
Nah kawan, sebenarnya begitu juga keadaan kita sekarang di kehidupan nyata ini. Apakah kondisi kita sekarang sudah ideal bagi kita? Merasa nyamankah kita dengan realita yang ada? Kalau kita mau mengubur egoisme dan mau bersikap objektif terhadap fakta yang ada, tentu kita merasa bahwa kondisi kehidupan kita, manusia maksudnya, tengah berada di tingkat abnormalitas yang parah. Kecuali tadi, jika ada yang merasa bukan manusia, tapi primata lain atau bahkan anoa, maka ia akan merasa biasa-biasa saja.
Dengan menggunakan otak dan nurani, kita dapat berpikir dan merasa: bahwa jika katanya angka kemiskinan menurun namun kita menyaksikan banyak masyarakat menderita kelaparan, pasti ada suatu kelainan; bahwa jika kriminalitas makin menjadi-jadi, lalu hukum begitu mudahnya dipermainkan sehingga penjahat semacam Gayus dibiarkan enjoy nonton pertandingan tenis di Bali, ini merupakan kesalahan; bahwa jika pejabat wakil rakyat menghamburkan uang Negara untuk studi banding ke luar negeri dengan tujuan belajar etika sementara rakyatnya sangat menderita karena bencana tengah melanda, itu adalah sesuatu yang mengganggu; bahwa jika ada kepala Negara yang menyambut dengan penuh hormat presiden Negara pembantai saudaranya sementara penanggulangan korban Mentawai dan Merapi belum tuntas, itu benar-benar sangat tidak wajar.
Terlebih lagi bagi yang berikrarkan dua kalimat syahadat, mengimani bahwa tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad itu rasul-Nya. Keadaan sekarang sungguh sangat menyiksa. Karena keadaan sekarang betul-betul tidak sesuai dengan aturan yang telah digariskan Sang Pencipta. Sistem hidup berpatok pada materi, tak sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yang tertera di adz-Dzariyat ayat 56. Al-Maidah ayat 44, 45 dan 47 diindahkan, manusia lebih senang coba-coba membuat aturan hidup dengan pemikiran mereka yang relatif. Maka kekacauanlah jadinya, ketika yang diciptakan merasa lebih tahu tentang aturan hidupnya ketimbang Yang Menciptakan. Lucu sekaligus menjengkelkan kan, ketika robot yang kita bikin tak mau menaati aturan yang sudah kita rancang.
Oke, sedikit intermezzo, uji keimanan buat kita: percaya adanya Tuhan? Yakin? Kan Dia gak kelihatan, gak bisa diraba dan diterawang? Oh, kamu punya buktinya ya kalau Tuhan itu ada. Lalu Tuhan mana yang benar? Allah? Yakin loe?! Tahu dari mana? Hah, al-Qur’an? Emang al-Qur’an itu bener? Coba buktikan! Lah, masih ngotot kalo al-Qur’an itu bener. Emang loe percaya kalo semua isi al-Qur’an itu bener dari Allah, Tuhan loe itu? Kalo loe bener-bener yakin 100%, loe percaya gak kalo di dalam Qur’an Allah nyuruh motong tangan pencuri, ngerajam penzina yang udah nikah, gak boleh makan riba dan lain sebagainya? Loe mau gak nerapin aturan Qur’an sama turunannya secara keseluruhan? Gak bisa? Apa? Karena Negara kita Negara HAM dan demokrasi? Loh, emangnya HAM sama demokrasi bikinan siapa? Itu cuman akal-akalannya manusia kan? Emang bagus aturan yang mana, aturannya Tuhan atau aturan bikinannya manusia sendiri? Loh, loh, loh, dasar gak konsisten lo hahahahaha!
Bagaimana, sudah gelisah ingin melakukan perubahan? Atau malah makin bingung?? Ya udah biarin ajah kebingungan loe ituh, hahay. Ruang ini terlalu terbatas untuk membahas aqidah sebagai pondasi keislaman kita, kawan. Lebih baik kita bahas dalam kesempatan lain, seperti diskusi melalui war_on_idea@yahoo.co.id.
Lebih baik kamu sepakat saja untuk melakukan perubahan. Karena selain tuntutan fakta ini juga merupakan tuntutan keimanan. Lalu perubahan seperti apa? Tentunya perubahan yang diridhai oleh-Nya, dengan kembali menerapkan aturan-Nya secara sistemik. Yakin 100% kan sama aturan-Nya Allah? Kan aturan ini sudah sempurna, buka lagi al-Maidah ayat 3, eh tapi itu pun kalau kamu percaya sama al-Qur’an.
Oya, perlu diingatkan sekali lagi, perubahan ini haruslah bersifat mendasar dan sistemik (menyeluruh), inilah yang namanya revolusi. Nah, sudah kenal kan sama om revolusi? Ingat, bukan reformasi loh. Meski revolusi dan reformasi sama-sama menuntut perubahan dengan cepat, reformasi sifatnya tidak mendasar dan tidak menyeluruh. Contohnya, reformasi 1998 yang hanya mengganti pemimpin saja, namun sistem/aturan dasar pemerintahannya tetap tidak diubah, yaitu masih mengesampingkan aturan-Nya Allah dan mempertahankan demokrasi-sekularisme. Makanya kondisi bangsa ini tetap amburadul kan.
Ingat, dalam dunia kedokteran kita diajarkan untuk mengobati penyakit dengan mengatasi etiologinya. Bukan cuma mengobati gejalanya saja. Contohnya seperti penyakit tak bisa kentut tadi. Kalau cuma sumbatannya dilubangi dengan pisau dapur saja, tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas walaupun awalnya bikin lega. Cari tahu dulu apa sumbatannya, bisa jadi itu adalah tumor ganas yang akan selalu tumbuh dengan tak terkendali. Sehingga dilubangi berapa kali pun tetap akan menyumbat juga nantinya. Penanganan paling tepat ya dengan operasi mengangkat tumornya secara keseluruhan.
Nah, lalu revolusinya seperti apa? Haruskah seperti revolusi Bastille yang mengawali Reinassancenya masyarakat Eropa atau revolusi Bolchevik yang menuntut kesetaraan di Rusia? Lah kembali ke aturan-Nya tadi dong. Kan Rasulullah sudah pernah mencontohkan kalau beliau pernah merevolusi masyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat yang saking dahsyatnya sampai kemudian menaklukkan Romawi dan Persia. Revolusi yang diajarkan jelas bukan revolusi dengan kekerasan. Tapi dengan pemikiran, tantangan intelektual.
Bicara masalah revolusi tentu takkan habis cuma sampai di sini juga. Lagipula sungguh sayang kan kalau informasi mengenai revolusi yang begitu menggiurkan ini kita nikmati dengan sekali santap sekaligus. Jangan tergesa-gesa, pelan-pelan saja, perlu proses dan seni tersendiri kok untuk memahami revolusi sampai kamu sendiri tergila-gila dengannya. Mengutip kata-kata Divan Semesta, revolusi itu tergolong sesuatu yang seksi, menggairahkan bagi orang-orang yang mengenalnya. Jangan juga jadi lupa diri, ya. Tujuan kita kan cuma satu.
(Setelah baca ini coba dengarkan S.O.S nya Bondan Prakoso feat kawan2nya yang imut-imut, hayati liriknya, dijamin rasanya pasti beda)
Nah kawan, sebenarnya begitu juga keadaan kita sekarang di kehidupan nyata ini. Apakah kondisi kita sekarang sudah ideal bagi kita? Merasa nyamankah kita dengan realita yang ada? Kalau kita mau mengubur egoisme dan mau bersikap objektif terhadap fakta yang ada, tentu kita merasa bahwa kondisi kehidupan kita, manusia maksudnya, tengah berada di tingkat abnormalitas yang parah. Kecuali tadi, jika ada yang merasa bukan manusia, tapi primata lain atau bahkan anoa, maka ia akan merasa biasa-biasa saja.
Dengan menggunakan otak dan nurani, kita dapat berpikir dan merasa: bahwa jika katanya angka kemiskinan menurun namun kita menyaksikan banyak masyarakat menderita kelaparan, pasti ada suatu kelainan; bahwa jika kriminalitas makin menjadi-jadi, lalu hukum begitu mudahnya dipermainkan sehingga penjahat semacam Gayus dibiarkan enjoy nonton pertandingan tenis di Bali, ini merupakan kesalahan; bahwa jika pejabat wakil rakyat menghamburkan uang Negara untuk studi banding ke luar negeri dengan tujuan belajar etika sementara rakyatnya sangat menderita karena bencana tengah melanda, itu adalah sesuatu yang mengganggu; bahwa jika ada kepala Negara yang menyambut dengan penuh hormat presiden Negara pembantai saudaranya sementara penanggulangan korban Mentawai dan Merapi belum tuntas, itu benar-benar sangat tidak wajar.
Terlebih lagi bagi yang berikrarkan dua kalimat syahadat, mengimani bahwa tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad itu rasul-Nya. Keadaan sekarang sungguh sangat menyiksa. Karena keadaan sekarang betul-betul tidak sesuai dengan aturan yang telah digariskan Sang Pencipta. Sistem hidup berpatok pada materi, tak sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yang tertera di adz-Dzariyat ayat 56. Al-Maidah ayat 44, 45 dan 47 diindahkan, manusia lebih senang coba-coba membuat aturan hidup dengan pemikiran mereka yang relatif. Maka kekacauanlah jadinya, ketika yang diciptakan merasa lebih tahu tentang aturan hidupnya ketimbang Yang Menciptakan. Lucu sekaligus menjengkelkan kan, ketika robot yang kita bikin tak mau menaati aturan yang sudah kita rancang.
Oke, sedikit intermezzo, uji keimanan buat kita: percaya adanya Tuhan? Yakin? Kan Dia gak kelihatan, gak bisa diraba dan diterawang? Oh, kamu punya buktinya ya kalau Tuhan itu ada. Lalu Tuhan mana yang benar? Allah? Yakin loe?! Tahu dari mana? Hah, al-Qur’an? Emang al-Qur’an itu bener? Coba buktikan! Lah, masih ngotot kalo al-Qur’an itu bener. Emang loe percaya kalo semua isi al-Qur’an itu bener dari Allah, Tuhan loe itu? Kalo loe bener-bener yakin 100%, loe percaya gak kalo di dalam Qur’an Allah nyuruh motong tangan pencuri, ngerajam penzina yang udah nikah, gak boleh makan riba dan lain sebagainya? Loe mau gak nerapin aturan Qur’an sama turunannya secara keseluruhan? Gak bisa? Apa? Karena Negara kita Negara HAM dan demokrasi? Loh, emangnya HAM sama demokrasi bikinan siapa? Itu cuman akal-akalannya manusia kan? Emang bagus aturan yang mana, aturannya Tuhan atau aturan bikinannya manusia sendiri? Loh, loh, loh, dasar gak konsisten lo hahahahaha!
Bagaimana, sudah gelisah ingin melakukan perubahan? Atau malah makin bingung?? Ya udah biarin ajah kebingungan loe ituh, hahay. Ruang ini terlalu terbatas untuk membahas aqidah sebagai pondasi keislaman kita, kawan. Lebih baik kita bahas dalam kesempatan lain, seperti diskusi melalui war_on_idea@yahoo.co.id.
Lebih baik kamu sepakat saja untuk melakukan perubahan. Karena selain tuntutan fakta ini juga merupakan tuntutan keimanan. Lalu perubahan seperti apa? Tentunya perubahan yang diridhai oleh-Nya, dengan kembali menerapkan aturan-Nya secara sistemik. Yakin 100% kan sama aturan-Nya Allah? Kan aturan ini sudah sempurna, buka lagi al-Maidah ayat 3, eh tapi itu pun kalau kamu percaya sama al-Qur’an.
Oya, perlu diingatkan sekali lagi, perubahan ini haruslah bersifat mendasar dan sistemik (menyeluruh), inilah yang namanya revolusi. Nah, sudah kenal kan sama om revolusi? Ingat, bukan reformasi loh. Meski revolusi dan reformasi sama-sama menuntut perubahan dengan cepat, reformasi sifatnya tidak mendasar dan tidak menyeluruh. Contohnya, reformasi 1998 yang hanya mengganti pemimpin saja, namun sistem/aturan dasar pemerintahannya tetap tidak diubah, yaitu masih mengesampingkan aturan-Nya Allah dan mempertahankan demokrasi-sekularisme. Makanya kondisi bangsa ini tetap amburadul kan.
Ingat, dalam dunia kedokteran kita diajarkan untuk mengobati penyakit dengan mengatasi etiologinya. Bukan cuma mengobati gejalanya saja. Contohnya seperti penyakit tak bisa kentut tadi. Kalau cuma sumbatannya dilubangi dengan pisau dapur saja, tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas walaupun awalnya bikin lega. Cari tahu dulu apa sumbatannya, bisa jadi itu adalah tumor ganas yang akan selalu tumbuh dengan tak terkendali. Sehingga dilubangi berapa kali pun tetap akan menyumbat juga nantinya. Penanganan paling tepat ya dengan operasi mengangkat tumornya secara keseluruhan.
Nah, lalu revolusinya seperti apa? Haruskah seperti revolusi Bastille yang mengawali Reinassancenya masyarakat Eropa atau revolusi Bolchevik yang menuntut kesetaraan di Rusia? Lah kembali ke aturan-Nya tadi dong. Kan Rasulullah sudah pernah mencontohkan kalau beliau pernah merevolusi masyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat yang saking dahsyatnya sampai kemudian menaklukkan Romawi dan Persia. Revolusi yang diajarkan jelas bukan revolusi dengan kekerasan. Tapi dengan pemikiran, tantangan intelektual.
Bicara masalah revolusi tentu takkan habis cuma sampai di sini juga. Lagipula sungguh sayang kan kalau informasi mengenai revolusi yang begitu menggiurkan ini kita nikmati dengan sekali santap sekaligus. Jangan tergesa-gesa, pelan-pelan saja, perlu proses dan seni tersendiri kok untuk memahami revolusi sampai kamu sendiri tergila-gila dengannya. Mengutip kata-kata Divan Semesta, revolusi itu tergolong sesuatu yang seksi, menggairahkan bagi orang-orang yang mengenalnya. Jangan juga jadi lupa diri, ya. Tujuan kita kan cuma satu.
(Setelah baca ini coba dengarkan S.O.S nya Bondan Prakoso feat kawan2nya yang imut-imut, hayati liriknya, dijamin rasanya pasti beda)
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
11/18/2010 03:05:00 PM
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Not Important
Jengah kurasa..
Sudah beberapa jam sejak kuputuskan melek di depan laptop untuk memulai editing buletin fakultas yang diamanahkan padaku.. Tapi rasanya seperti sia-sia. Aku hanya menyelesaikan cover depan yang kuanggap hasilnya buruk. Dan juga menulis kata pengantar yang menurutku asal-asalan.
Entah sudah berapa kali repeat beberapa lagu dari bondan prakoso dan linkin park terdengar dari headset yang kupasang. Lagu-lagu yang kuanggap sebagai penyemangat diri dalam perjuangan menegakkan revolusi yang begitu panjang dan kadang melelahkan.
Huff.. Betapa menyedihkannya, ketika aku mulai merasa aktivitas ini seperti rutinitas biasa saja. Perjalanan ini seperti menapaki jembatan panjang yang tak berujung dan takkan membawa hasil. Dan di saat seperti ini aku berkata kasar kepada diriku sendiri. Apakah kau sudah melupakan apa yang dijanjikan oleh-Nya?
Dan sisi lain diriku menjawab lugas: jelas tidak!!!
Lalu kenapa engkau merasa jengah?
Sejenak kurenungkan apa saja yang sudah ku korbankan untuk perjuangan ini. Ternyata belum begitu banyak yang berharga. Kemudian ku muhasabahi diri, apakah revolusi yang sering ku umbar sudah ku terapkan pada diriku sendiri? Ah, tak semuanya! Betapa banyak maksiat yang kulakukan dan perintah-Nya yang kuindahkan?
Pantas saja aku merasa hampa. Sebab aku masih terlalu jauh dari-Nya. Aku masih tak merasa bahwa Dia lebih dekat dari nadi di leherku. Ya. Sesungguhnya Dia sedari dulu sudah berada di sana, hanya saja, sekali lagi aku yang tak merasakannya...
Ya Rabb, kesalahanku, kebodohanku.. ampunilah..
'I'm swimming in the smoke
for bridges i have burned
so don't apologize,
i'm loosing what i don't deserve.
What i don't deserve..'
Sudah beberapa jam sejak kuputuskan melek di depan laptop untuk memulai editing buletin fakultas yang diamanahkan padaku.. Tapi rasanya seperti sia-sia. Aku hanya menyelesaikan cover depan yang kuanggap hasilnya buruk. Dan juga menulis kata pengantar yang menurutku asal-asalan.
Entah sudah berapa kali repeat beberapa lagu dari bondan prakoso dan linkin park terdengar dari headset yang kupasang. Lagu-lagu yang kuanggap sebagai penyemangat diri dalam perjuangan menegakkan revolusi yang begitu panjang dan kadang melelahkan.
Huff.. Betapa menyedihkannya, ketika aku mulai merasa aktivitas ini seperti rutinitas biasa saja. Perjalanan ini seperti menapaki jembatan panjang yang tak berujung dan takkan membawa hasil. Dan di saat seperti ini aku berkata kasar kepada diriku sendiri. Apakah kau sudah melupakan apa yang dijanjikan oleh-Nya?
Dan sisi lain diriku menjawab lugas: jelas tidak!!!
Lalu kenapa engkau merasa jengah?
Sejenak kurenungkan apa saja yang sudah ku korbankan untuk perjuangan ini. Ternyata belum begitu banyak yang berharga. Kemudian ku muhasabahi diri, apakah revolusi yang sering ku umbar sudah ku terapkan pada diriku sendiri? Ah, tak semuanya! Betapa banyak maksiat yang kulakukan dan perintah-Nya yang kuindahkan?
Pantas saja aku merasa hampa. Sebab aku masih terlalu jauh dari-Nya. Aku masih tak merasa bahwa Dia lebih dekat dari nadi di leherku. Ya. Sesungguhnya Dia sedari dulu sudah berada di sana, hanya saja, sekali lagi aku yang tak merasakannya...
Ya Rabb, kesalahanku, kebodohanku.. ampunilah..
'I'm swimming in the smoke
for bridges i have burned
so don't apologize,
i'm loosing what i don't deserve.
What i don't deserve..'
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
11/18/2010 03:04:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
.
Jumlah yang Nyangkut
Corong Revolusi
Ekspresikanlah
Para Guru
Kutipan dari Langit
Hitungan Mundur
Detak-detik
Kicau
Diberdayakan oleh Blogger.
Follower
Mengenai Saya
- Adit Ahmad
- Hanya manusia biasa dengan misi pembebasan. Ingin mencoba berkontribusi untuk revolusi yang insya Allah pasti terjadi nanti. Masih dalam tahap belajar tentu, mencoba terus berkarya dalam segala keterbatasan.
