Innalillahi wa inna ‘ilayhi raji’un. Gunung Merapi kembali memuntahkan isi perutnya, aliran awan panas yang juga mengalirkan air mata kesedihan atas berpulangnya nyawa-nyawa yang menjadi korban ke hadirat-Nya. Ke hadirat Allah, sang pemilik nyawa manusia dan juga yang menguasai Gunung Merapi itu sendiri. Dan di antara belasan jasad yang telah membujur kaku itu terselip sosok yang sudah tak asing lagi kita dengar. Ia disebut sebagai juru kunci Gunung Merapi, dikenal dengan nama Mbah Maridjan.
Saya rasa kematian beliau cukup istimewa. Tidak, ini tidak menyangkut status beliau sebagai juru kunci Merapi karena saya yakin seyakin-yakinnya Sang Juru Kunci sebenarnya yang menentukan tumpahnya isi perut Merapi maupun yang mampu meredam amarah gunung tersebut hanyalah Allah Yang Maha Kuasa. Mbah Maridjan, seperti halnya kita adalah manusia biasa yang suatu saat nanti pasti akan mati juga, seperti apapun cara kematiannya. Yang istimewa menurut saya adalah keberanian dan idealisme yang kakek ini mampu pertahankan hingga akhir hayatnya.
Ya, idealisme dan keberanian. Kakek mana yang mau bertahan di lingkungan gunung berapi yang sudah jelas tanda-tanda aktivitas vulkaniknya akan segera meletus? Kita ingat di berita-berita disebutkan ketika petugas mengungsikan warga sekitar lalu menyarankan Mbah Maridjan ikut beranjak mengamankan diri dari sana, si Mbah malah menolak dan berkata, “Saya masih kerasan dan betah tinggal di sini. Kalau ditinggal nanti siapa yang mengurus tempat ini?”
Wallahu’alam, apa yang dimaksud beliau dengan ‘mengurus tempat ini’. Tidak tahu apakah benar beliau bertahan di sana demi melaksanakan ritual-ritual seperti kata berbagai media. Namun yang jelas, berdasarkan penuturan teman saya di jejaring sosial yang pernah berinteraksi langsung dengan kehidupan warga di lereng Merapi sejak 2006, Mbah Maridjan adalah sosok yang taat beribadah bahkan amalan sunnahnya sangat baik. Anak perempuan beliau juga seorang da’iyah yang berjuang menghilangkan berbagai kesyirikan di kalangan masyarakat sana. Sayangnya hal ini rasanya malah tidak pernah diekspos oleh media. Teman saya itu berpendapat, Mbah Maridjan hanyalah korban dari kemusyrikan penguasa setempat, yang mempertahankan tradisi juru kunci Merapi hingga sekarang.
Sikap Mbah Maridjan di akhir hayatnya jelas menunjukkan rasa tanggung jawab beliau yang begitu besar atas ‘tugas & predikat’ yang disematkan kepada beliau. Beliau tahu bisa jadi yang dikatakan petugas benar, bahwa Merapi sudah siap meletus dan tentu ini akan berbahaya untuk keselamatan dirinya yang bersikeras untuk tinggal. Namun beliau paham beliau sendiri pemegang tanggungjawab ini, dan kalau bukan dirinya, siapa lagi? Dan tentu beliau tahu, nyawalah yang akan jadi taruhannya.
Hingga, ketika ketentuan Allah telah terjadi, ditemukanlah jasad Mbah Maridjan yang tak bernyawa lagi, tertutupi debu tebal dari awan panas merapi, dan subhanallah, dalam posisi bersujud.
Dan sekarang bagaimana dengan kita? Kita yang mengaku sebagai pengemban dakwah, kita yang menganggap diri kita adalah orang yang menerima dan melaksanakan tugas mulia dari Allah dan rasul-Nya sebagai penyampai dien ini, hingga tegaknya islam di muka bumi? Bukankah tugas kita ini adalah tugas yang jelas siapa yang memerintahkannya, jelas ganjarannya namun juga jelas segala rintangan dan hambatan untuk menjalankannya? Bagaimana jika kelak halangan itu semakin sulit, sanggupkah kita berkata “Saya takkan meninggalkan jalan ini, saya masih betah tinggal di sini. Kalau saya meninggalkan da’wah ini, siapa lagi yang akan menjalankannya?” Dan bagaimana jika akhirnya kita dihadapkan pada pilihan berat yang bahkan pilihan tersebut menuntut untuk mengorbankan nyawa kita? Masih beranikah kita berteriak lantang di garis depan dan terus melawan? SIAPKAH KITA UNTUK MATI??
Padahal baru sedikit saja amanah da’wah yang kita terima kita sudah mengeluh, merasa terbebani, menganggap hal itu tidak penting dan lain sebagainya. Hingga kita pun menjadi tidak profesional dan tak sungguh-sungguh menjalankannya, dengan berbagai alasan yang sebenarnya mengada-ada.. Inikah yang namanya pengemban tugas dari langit itu? Kemana idealisme kita yang seringkali kita umbar, kemana keteguhan yang sering kita ajarkan kepada objek da’wah kita? Tak malukah kita?
Dan karena hikmah itu ada di mana saja, dan tiap muslim diperintahkan mengambil hikmah yang berceceran itu, ada patutnya kita meniru satu hal pada almarhum sang ‘juru kunci’. Siapa tahu, dalam satu hal ini, kita jauh tidak lebih baik dibandingkan beliau. Wallahu’alam..
(lebih ditujukan untuk diri sendiri!)
Pages
Menikmati Upaya Revolusi Sebagaimana Menyeruput Secangkir Kopi
Rabu, 03 November 2010
Berkaca pada Mbah Maridjan
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
11/03/2010 09:29:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Senin, 01 November 2010
Happiness
Ada sebuah pertanyaan sederhana pren, namun mungkin bagi sebagian orang ini adalah pertanyaan serius. Dimanakah letak kebahagiaan? Kayaknya ini pertanyaan yang pas disodorkan kepada orang yang merasa dirinya orang paling malang sedunia. Contohnya banyaklah, misalnya orang yang putus cintalah, gak punya duit karna udah lama gak dikirimin ortu jatah bulananlah, IPKnya yang selalu nasakom (nasib satu koma) lah, dll. Atau juga orang yang mengalami komplikasi berbagai masalah, saking banyaknya sampai-sampai dia pikir hidup itu sendiri adalah masalah yang harus diakhiri.. Wuiih, kalo udah kayak gitu rasanya mending sekalian aja panjat menara RRI sampai puncak terus lompat indah deh dari sono.
Nah sekarang kira-kira apa jawabannya yak? Ada yang bilang kebahagiaan itu ada pada harta yang berlimpah ruah sehingga kita gak lagi hidup susah en apa yang kita inginkan semuanya tinggal dibeli pake uang. Apa bener? Buktinya banyak tuh orang kaya stress yang akhirnya terpaksa tinggal di rumah sakit jiwa atau mati bunuh diri. Ada lagi yang bilang kebahagiaan itu bisa datang kalo kita meraih berbagai prestasi en penghargaan. Hmm, tapi ada juga tuh orang yang hidupnya kagak tenang karena terlalu ambisius mendapatkan prestasi tadi sehingga sedikit aja ia gagal en terjatuh ia langsung patah arang. Atau ada yang bilang kebahagiaan itu terdapat pada kegantengan secara fisik? Nggak juga tuh. Soalnya gw ngerasain sendiri kok. Orang seganteng gw juga masih tetep stress karena diburu fans gw hampir tiap hari, bwahahahah!
Yang namanya kebahagiaan, belum tentu bisa diukur dengan materi pren. Contoh, orang yang kaya raya mungkin masih gak akan berbahagia dengan kekayaannya jika ngelihat kekayaan saingan bisnisnya yang lebih melimpah. Wajarlah, yang namanya manusia bila nurutin hawa nafsunya pastilah gak kan pernah puas. Ketidakpuasan inilah yang bikin orang gelisah, maunya meraih sesuatu yang lebih tinggi dan lebih lagi. Maka meski udah berlimpah materi yang dipunyai rasa bahagia tetap gak juga mampu dirasakan. Lalu, dimanakah sebenarnya kebahagiaan itu?
Jawabannya mudah, gak usah jauh-jauh nyarinya kok. Kata ustadz, kebahagiaan itu ada dalam hati kita sendiri. Ya, hati yang senantiasa bersyukur tentunya. Bersyukur terhadap apa aja yang udah dikaruniakan Allah kepada kita. Inilah kuncinya kawan. Sudahkah kita selalu bersyukur? Atas kesehatan raga yang masih kita rasakan, kesempatan waktu yang kita manfaatkan untuk beraktivitas, rezeki yang memungkinkan kita masih mampu menuntut ilmu hingga jenjang setinggi ini. Dan banyak lagi yang lain-lain. Belum lagi berbagai kenikmatan yang sebenernya gak bisa dirasakan oleh semua orang en kita bisa merasakannya.
Gw teringat dengan pengalaman sobat gw yang adiknya pernah merengek pengen banget makan siomay. Sobat gw itu lalu menyetop gerobak siomay yang lewat depan rumahnya, lantas memesan semangkuk siomay buat adiknya. Ketika menghadapi hidangan siomay itu adeknya tersenyum sumringah, kelihatannya bahagia banget lalu berterima kasih sama si kakak.
Dan sekarang, gw bisa berbahagia bukan cuma karena kegantengan yang gw miliki (wueekk..), tapi juga karena gw punya sohib2 yang mau menerima gw apa adanya dengan segala kekurangan gw. Sungguh hal ini adalah sesuatu yang gak bisa ditukar dengan materi, sebanyak apapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu ngingetin gw untuk selalu berada di jalan yang benar, gak sungkan buat negur gw kalo gw bikin salah atau maksiat, yang selalu sabar ngadepin tingkah laku gw yang menyebalkan. Mereka adalah inspirasi gw yang membuat hidup gw jadi lebih berwarna, merekalah yang memotivasi gw untuk terus menjadi lebih baik, merekalah yang selalu ngasih solusi ketika gw dirundung berbagai masalah, termasuk mereka jugalah yang rela ngutangin gw ketika gw kehabisan duit pas lagi kelaparan.
Yang lebih penting gw bahagia dapat sohib yang ternyata punya satu visi yang sama dengan gw. Punya mimpi yang bersama-sama pengen diwujudkan, walaupun orang banyak bilang mimpi kami itu terlalu utopis buat direalisasikan. Namun kita punya keyakinan yang sama bahwa apa yang akan kita perjuangkan ini kemenangannya adalah kepastian. Karena dijanjikan langsung oleh Pencipta kita en Rasul-Nya. Gw bahagia, gak sendirian berada di garis depan perjuangan ini!
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
11/01/2010 01:16:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
dakwah
Sabtu, 16 Oktober 2010
Revolt
Mereka bilang jiwa pemberontakanku terlalu besar
Dan kurasa pun demikian..
Lantas, apa yang salah dengan itu?
Apakah karena pemberontakan selalu identik dengan hal yang salah?
Lalu bagaimana dengan pemberontakan terhadap kesalahan?
Kesalahan yang menetaskan keterpurukan, yang mengakibatkan semuanya tak berjalan sebagaimana mestinya.
Tak seperti yang dikehendaki-Nya kepada kita sebagai ciptaan-Nya, hamba-Nya yang seharusnya patuh
Dalam keterbatasan manusia kebenaran adalah relatif
Kebenaran mutlak adalah dari pertimbangan-Nya
Maka kepada keputusan-Nya lah kita memutuskan kebenaran
Mereka bilang mengembalikan keadaan itu ialah utopia
Mereka pikir inilah yang terbaik adanya
Ku pikir dan rasa, jelas tidak
Dalam sejarahnya perubahan memang sering tak mengenakkan
Karena bertentangan dengan kebiasaan
Maka wajarlah revolusi diidentikkan dengan pemberontakan
Namun apa gunanya mempermasalahkan istilah, dan anggapan manusia?
Tetap maju dan pahamkan mereka, bahwa perubahan itu perlu
Jika mereka tetap bersikeras menyamakan perubahan ke arah lebih baik sebagai pemberontakan..
Maka kitalah pemberontak itu!
We’ll be the one of few people..
Who against the world.
Maybe we will fall before win,
But we must fall within our only deen..
Our only ideology!
Jika kau melihat suatu ketidakberesan, berontaklah dengan kuasamu.
Jika tak mampu, berontaklah melalui lisanmu.
Dan bila tak mampu juga, berontaklah di dalam hatimu.
Tapi itulah selemah-lemah iman pemberontakkan!
Keep revolt.. and then, rise...!!!
(Pemberontak yang merindukan kedamaian, sungguh aku hanya makhluk lemah dengan segala keterbatasan, hina dengan segala kemaksiatan yang pernah kulakukan. Namun, semoga dengan upaya ini sedikit banyak membantuku menjadi muslim yang kaaffah. Dan kuyakin ketika aturan-Nya diterapkan, predikat muslim kaaffah akan mudah untuk kucoba capai)
Dan kurasa pun demikian..
Lantas, apa yang salah dengan itu?
Apakah karena pemberontakan selalu identik dengan hal yang salah?
Lalu bagaimana dengan pemberontakan terhadap kesalahan?
Kesalahan yang menetaskan keterpurukan, yang mengakibatkan semuanya tak berjalan sebagaimana mestinya.
Tak seperti yang dikehendaki-Nya kepada kita sebagai ciptaan-Nya, hamba-Nya yang seharusnya patuh
Dalam keterbatasan manusia kebenaran adalah relatif
Kebenaran mutlak adalah dari pertimbangan-Nya
Maka kepada keputusan-Nya lah kita memutuskan kebenaran
Mereka bilang mengembalikan keadaan itu ialah utopia
Mereka pikir inilah yang terbaik adanya
Ku pikir dan rasa, jelas tidak
Dalam sejarahnya perubahan memang sering tak mengenakkan
Karena bertentangan dengan kebiasaan
Maka wajarlah revolusi diidentikkan dengan pemberontakan
Namun apa gunanya mempermasalahkan istilah, dan anggapan manusia?
Tetap maju dan pahamkan mereka, bahwa perubahan itu perlu
Jika mereka tetap bersikeras menyamakan perubahan ke arah lebih baik sebagai pemberontakan..
Maka kitalah pemberontak itu!
We’ll be the one of few people..
Who against the world.
Maybe we will fall before win,
But we must fall within our only deen..
Our only ideology!
Jika kau melihat suatu ketidakberesan, berontaklah dengan kuasamu.
Jika tak mampu, berontaklah melalui lisanmu.
Dan bila tak mampu juga, berontaklah di dalam hatimu.
Tapi itulah selemah-lemah iman pemberontakkan!
Keep revolt.. and then, rise...!!!
(Pemberontak yang merindukan kedamaian, sungguh aku hanya makhluk lemah dengan segala keterbatasan, hina dengan segala kemaksiatan yang pernah kulakukan. Namun, semoga dengan upaya ini sedikit banyak membantuku menjadi muslim yang kaaffah. Dan kuyakin ketika aturan-Nya diterapkan, predikat muslim kaaffah akan mudah untuk kucoba capai)
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
10/16/2010 10:43:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sabtu, 21 Agustus 2010
Beriman dengan Pikiran
(dirampok secara damai dari http://divansemesta.com)
Bayangkanlah, jika tersesat di hutan belantara, kamu sendiri meniti jalan setapak menuju sebuah puncak Gunung. Kecapaian mendera, sebab kamu sudah melangkahkan kaki tak tentu arah selama 5 hari. Kini, kerongkonganmu serasa di iris sembilu sebab kamu kehabisan air minum --bukan saja untuk menyegarkan tenggorokan melainkan juga, menyelamatkan hidupmu. Disaat-saat penentuan antara hidup dan kematian, kamu bersandar pada sebuah pohon yang ranting-rantingnya dihangatkan oleh lumut-lumut berwarna hijau kekuningan. Sejenak, kamu merasakan keteduhan yang luar biasa.
Selagi bersandar, bola matamu yang cerlang itu menatap ruang biru cakrawala. Tiba-tiba cakrawala yang kosong melompong dibauri gumpalan awan. Dari balik awan yang mengeriting bagai bulu domba, dua ekor elang menyalipi. Sekonyong-konyong angin menyerulingkan orkestranya untuk kemudian menggoyangkan awan perlahan. Lembut sekali gerakannya.
Hujan tanpa awan hitam turun. Rintik-rintiknya jatuh dari atas sana, menetes membasahi helai rambut, mengalir menuju pori-pori kepala, menelusup pada bajumu yang terkoyak oleh dahan-dahan pepohonan. Kamu dongakan kepala. Kesejukan airnya meluruhkan asam tenggorokan. Tubuhmu yang sudah terkena dehidrasi itu, serta merta segar kembali. Butiran hujan yang membuat kulit kecoklatanmu berkilat-kilat, kini menjadi prisma yang membiaskan cahaya matahari.
Bayangkanlah, jika tersesat di hutan belantara, kamu sendiri meniti jalan setapak menuju sebuah puncak Gunung. Kecapaian mendera, sebab kamu sudah melangkahkan kaki tak tentu arah selama 5 hari. Kini, kerongkonganmu serasa di iris sembilu sebab kamu kehabisan air minum --bukan saja untuk menyegarkan tenggorokan melainkan juga, menyelamatkan hidupmu. Disaat-saat penentuan antara hidup dan kematian, kamu bersandar pada sebuah pohon yang ranting-rantingnya dihangatkan oleh lumut-lumut berwarna hijau kekuningan. Sejenak, kamu merasakan keteduhan yang luar biasa.
Selagi bersandar, bola matamu yang cerlang itu menatap ruang biru cakrawala. Tiba-tiba cakrawala yang kosong melompong dibauri gumpalan awan. Dari balik awan yang mengeriting bagai bulu domba, dua ekor elang menyalipi. Sekonyong-konyong angin menyerulingkan orkestranya untuk kemudian menggoyangkan awan perlahan. Lembut sekali gerakannya.
Hujan tanpa awan hitam turun. Rintik-rintiknya jatuh dari atas sana, menetes membasahi helai rambut, mengalir menuju pori-pori kepala, menelusup pada bajumu yang terkoyak oleh dahan-dahan pepohonan. Kamu dongakan kepala. Kesejukan airnya meluruhkan asam tenggorokan. Tubuhmu yang sudah terkena dehidrasi itu, serta merta segar kembali. Butiran hujan yang membuat kulit kecoklatanmu berkilat-kilat, kini menjadi prisma yang membiaskan cahaya matahari.
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
8/21/2010 02:17:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sejarah, Darah dan Sampah
Lirik lagu Thufai al-Ghifari
Hei...Indonesia Bersatu Dan Tetap Terjaga
Jihad Bingkai Negrikku
Tapaki Sejarah Panjang Dan Harapan Generasi Kami
Generasi Yang Selalu Menitipkan Harapan
Harapan Dari Rahmat Cinta Sepanjang Masa
Bagi Tanah Air Ini ... Indonesia
Aku Kenang Engkau Bersama Para Mujahid Sudirman Hingga Orasi Lantang Diponegoro
Ku Ingat Selalu Disetiap Cerita Semangat Hancurnya Djien Hingga Pattimura
Membasuh Begitu Tulus Air Mata Dan Keringat Kartini
Kau Membetang Begitu Besar Jauh Dan Hijau Membasuh Lagenda Perang Dan Senapan
Bambu-Bambu Runcing Merubah Air Mata Dan Darah Menjadi Semangat Merdeka
Ternyaring
Gaung Ayam Jantan Dari Timur Membelah Darah Dalam Harapan Termakmur
Saat Para Pahlawan Tersungkur Tinggalkan Mimpi Tentang Negeri Yang Makmur
Ihwal Nyata Fenomena Melantur Lintah Darat Demokrasi Menjamur
Begitu Manis Soekarno Hatta Bertutur Melindungi Benturkan Demokrasi Dalam Gamelan
Karikatur
Hei...Indonesia Bersatu Dan Tetap Terjaga
Jihad Bingkai Negrikku
Tapaki Sejarah Panjang Dan Harapan Generasi Kami
Generasi Yang Selalu Menitipkan Harapan
Harapan Dari Rahmat Cinta Sepanjang Masa
Bagi Tanah Air Ini ... Indonesia
Aku Kenang Engkau Bersama Para Mujahid Sudirman Hingga Orasi Lantang Diponegoro
Ku Ingat Selalu Disetiap Cerita Semangat Hancurnya Djien Hingga Pattimura
Membasuh Begitu Tulus Air Mata Dan Keringat Kartini
Kau Membetang Begitu Besar Jauh Dan Hijau Membasuh Lagenda Perang Dan Senapan
Bambu-Bambu Runcing Merubah Air Mata Dan Darah Menjadi Semangat Merdeka
Ternyaring
Gaung Ayam Jantan Dari Timur Membelah Darah Dalam Harapan Termakmur
Saat Para Pahlawan Tersungkur Tinggalkan Mimpi Tentang Negeri Yang Makmur
Ihwal Nyata Fenomena Melantur Lintah Darat Demokrasi Menjamur
Begitu Manis Soekarno Hatta Bertutur Melindungi Benturkan Demokrasi Dalam Gamelan
Karikatur
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
8/21/2010 02:13:00 PM
2
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Ramadhan Kampus Kehidupan
Mungkin pernah terlintas di pikiran seorang gamer bahwa hidup ini seperti RPG, atau bahkan mengimpikan kalau perjalanan hidupnya bagaikan alur kisah pada Final Fantasy dengan ia sendiri sebagai Squall Lionheartnya. Itu ada benarnya. Usia kita yang terus bertambah dan mengindikasikan makin jauh perjalanan hidup kita membuktikan biasanya makin sulit tantangan yang akan kita lalui ke depan. Analogikanlah bahwa makin tinggi level kita makin berat pula musuh-musuh di hadapan untuk dikalahkan.
Ingatkah dulu kita terbiasa mendapatkan apa yang kita mau hanya dengan rengekan manja kepada orang tua kita. Lalu kita makin belajar bahwa untuk mendapatkan hasil itu perlu proses, kebanyakannya jumlah hasil tentu sebanding dengan besarnya proses.
Hidup bagi manusia memang bukan hanya masalah untuk bertahan hidup, namun hidup adalah bagaimana kita berusaha dan dapat meraih pencapaian. Jika tidak demikian maka apa bedanya kita dengan mammalia lain bahkan avertebrata tingkat rendah sekalipun. Dan ini menuntut kita untuk terus berkembang, belajar dan memikirkan. Hewan tak memerlukan ini, sebagai bukti tak ada dan insya Allah takkan ada kucing yang ngampus di Unlam. Karena bagi mereka sekedar bisa makan, buang hajat dan kawin itu cukup.
Masa kuliah adalah salah satu level itu. Dimana masa ini bukanlah tujuan namun hanya juga proses. Anda takkan betah berada di sini selama-lamanya berstatuskan mahasiswa. Kita di sini karena ingin mencapai step selanjutnya, level yang lebih tinggi dalam hidup ini. Profesi, penghidupan yang layak dan lain-lain.
Mungkin ada kemiripan dengan Ramadhan, sebuah bulan yang bila mampu kita optimalkan di penghujungnya kita akan menuai kemuliaan yang luar biasa. Puasa Ramadhan ialah proses itu. Dan hasilnya berupa ampunan sampai ketakwaan.
Ramadhan dan kampus dapat dimirip-miripkan dengan kepompong, tahap metamorfosa selanjutnya dari larva yang setelahnya akan melahirkan kembali kita menjadi individu kupu-kupu yang kecantikannya tak dapat dinyana sebelumnya. Maksimalkanlah, kawan. Demi Allah, tujuan akhir kita. Itulah kemenangan abadi dan sejati. Yang kepuasannya jauh lebih tinggi dibandingkan ketika kita menamatkan game RPG sekaliber Final Fantasy tanpa game over sekalipun.
(pengantar buletin bulanan Asy-Syifa FK Unlam)
Ingatkah dulu kita terbiasa mendapatkan apa yang kita mau hanya dengan rengekan manja kepada orang tua kita. Lalu kita makin belajar bahwa untuk mendapatkan hasil itu perlu proses, kebanyakannya jumlah hasil tentu sebanding dengan besarnya proses.
Hidup bagi manusia memang bukan hanya masalah untuk bertahan hidup, namun hidup adalah bagaimana kita berusaha dan dapat meraih pencapaian. Jika tidak demikian maka apa bedanya kita dengan mammalia lain bahkan avertebrata tingkat rendah sekalipun. Dan ini menuntut kita untuk terus berkembang, belajar dan memikirkan. Hewan tak memerlukan ini, sebagai bukti tak ada dan insya Allah takkan ada kucing yang ngampus di Unlam. Karena bagi mereka sekedar bisa makan, buang hajat dan kawin itu cukup.
Masa kuliah adalah salah satu level itu. Dimana masa ini bukanlah tujuan namun hanya juga proses. Anda takkan betah berada di sini selama-lamanya berstatuskan mahasiswa. Kita di sini karena ingin mencapai step selanjutnya, level yang lebih tinggi dalam hidup ini. Profesi, penghidupan yang layak dan lain-lain.
Mungkin ada kemiripan dengan Ramadhan, sebuah bulan yang bila mampu kita optimalkan di penghujungnya kita akan menuai kemuliaan yang luar biasa. Puasa Ramadhan ialah proses itu. Dan hasilnya berupa ampunan sampai ketakwaan.
Ramadhan dan kampus dapat dimirip-miripkan dengan kepompong, tahap metamorfosa selanjutnya dari larva yang setelahnya akan melahirkan kembali kita menjadi individu kupu-kupu yang kecantikannya tak dapat dinyana sebelumnya. Maksimalkanlah, kawan. Demi Allah, tujuan akhir kita. Itulah kemenangan abadi dan sejati. Yang kepuasannya jauh lebih tinggi dibandingkan ketika kita menamatkan game RPG sekaliber Final Fantasy tanpa game over sekalipun.
(pengantar buletin bulanan Asy-Syifa FK Unlam)
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
8/21/2010 01:48:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 19 Agustus 2010
Conspiracy
Ketika selesai membaca sebuah karya fenomenal dari Dan Brown ini, otak saya begitu penuh dengan berbagai pemikiran. The Da Vinci Code, ah saya merasa seperti seorang tua yang terbiasa menggunakan pos untuk mengirim pesan yang takjub dengan fitur sms saja karena baru sekarang mampu membaca dan menyelesaikan novel ini, yang sudah menjadi buah bibir sebenarnya semenjak tahun 2005.
Saya memang bukan ahlinya dalam mengomentari sebuah karya seseorang, bahkan saya kurang tahu apakah karya ini merupakan fiksi atau nonfiksi tapi biarlah saya ingin menebak bahwa karya yang dianggap membongkar konspirasi luar biasa ini merupakan karya fiksi yang dibawakan secara non fiksi. (bingung? Saya memang tak pandai dalam hal ini ternyata. Jadi silakan baca sendiri) Namun pikiran saya terpusat pada satu kata, yaitu konspirasi. Begitu banyak memang konspirasi-konspirasi bertebaran di muka bumi, ada yang terlalu cantik hingga sulit untuk diungkap tabir yang menyelubungi fakta yang sebenarnya, dan ada pula yang sangat rapuh sehingga rekayasanya terlalu mudah untuk diketahui bahkan dengan pemikiran yang awam.
Konsili Nicea yang memutuskan penetapan sifat ke-Ilahian seorang nabi biasa yang sebenarnya hanya karena ambisi kekuasaan Kaisar Konstantine. Tragedi 11 September 2001 yang dikaitkan dengan tindakan 'jail' yang keterlaluan dari al-Qaida, padahal itu alasan yang dibuat-buat lalu dianggap rasional untuk menyerang Afghanistan. Dan lain-lain, dan lain-lain.
Kebanyakan manusia memang senang dengan hal seperti ini, siapa yang tak suka konspirasi? Manusia memiliki akal yang membedakannya dengan makhluk lain, yang dengan itu ia akan mengkritisi segala fakta yang ada, tak mau pasrah begitu saja dan bereaksi apa adanya sesuai insting liar. Dengan kemampuannya ini, akan ada dua jenis manusia, pembuat konspirasi dan pembongkar konspirasi. Eh, mungkin juga ada golongan ketiga yaitu mereka yang enggan berepot-repot memutar otaknya dan menerima apa adanya yang terjadi.
Sebenarnya sesuatu itu bisa disimpulkan sebagai konspirasi atau bukan hanya bisa diketahui setelah ada fakta-fakta yang menjadi bukti bahwa sesuatu memang benar direkayasa sedemikian rupanya. Yah, umumnya seperti itu. Kalau memang begitu adanya kita sendiri pun ternyata adalah hasil konspirasi yang luar biasa. Angka-angka PHI yang dapat ditemukan dalam berbagai pengukuran dalam tubuh kita, kerja organ-organ yang saling bersinergi melanjutkan kehidupan, bahkan proses perkembangan dari janin sampai dilahirkan, semuanya memiliki keteraturan, keterkaitan satu sama lain yang sangat luar biasa.
Allah SWT pastinya adalah Sang Maha, termasuk pastinya juga dalam masalah konspirasi ini, kan.
Saya memang bukan ahlinya dalam mengomentari sebuah karya seseorang, bahkan saya kurang tahu apakah karya ini merupakan fiksi atau nonfiksi tapi biarlah saya ingin menebak bahwa karya yang dianggap membongkar konspirasi luar biasa ini merupakan karya fiksi yang dibawakan secara non fiksi. (bingung? Saya memang tak pandai dalam hal ini ternyata. Jadi silakan baca sendiri) Namun pikiran saya terpusat pada satu kata, yaitu konspirasi. Begitu banyak memang konspirasi-konspirasi bertebaran di muka bumi, ada yang terlalu cantik hingga sulit untuk diungkap tabir yang menyelubungi fakta yang sebenarnya, dan ada pula yang sangat rapuh sehingga rekayasanya terlalu mudah untuk diketahui bahkan dengan pemikiran yang awam.
Konsili Nicea yang memutuskan penetapan sifat ke-Ilahian seorang nabi biasa yang sebenarnya hanya karena ambisi kekuasaan Kaisar Konstantine. Tragedi 11 September 2001 yang dikaitkan dengan tindakan 'jail' yang keterlaluan dari al-Qaida, padahal itu alasan yang dibuat-buat lalu dianggap rasional untuk menyerang Afghanistan. Dan lain-lain, dan lain-lain.
Kebanyakan manusia memang senang dengan hal seperti ini, siapa yang tak suka konspirasi? Manusia memiliki akal yang membedakannya dengan makhluk lain, yang dengan itu ia akan mengkritisi segala fakta yang ada, tak mau pasrah begitu saja dan bereaksi apa adanya sesuai insting liar. Dengan kemampuannya ini, akan ada dua jenis manusia, pembuat konspirasi dan pembongkar konspirasi. Eh, mungkin juga ada golongan ketiga yaitu mereka yang enggan berepot-repot memutar otaknya dan menerima apa adanya yang terjadi.
Sebenarnya sesuatu itu bisa disimpulkan sebagai konspirasi atau bukan hanya bisa diketahui setelah ada fakta-fakta yang menjadi bukti bahwa sesuatu memang benar direkayasa sedemikian rupanya. Yah, umumnya seperti itu. Kalau memang begitu adanya kita sendiri pun ternyata adalah hasil konspirasi yang luar biasa. Angka-angka PHI yang dapat ditemukan dalam berbagai pengukuran dalam tubuh kita, kerja organ-organ yang saling bersinergi melanjutkan kehidupan, bahkan proses perkembangan dari janin sampai dilahirkan, semuanya memiliki keteraturan, keterkaitan satu sama lain yang sangat luar biasa.
Allah SWT pastinya adalah Sang Maha, termasuk pastinya juga dalam masalah konspirasi ini, kan.
Diposting oleh
Adit Ahmad
di
8/19/2010 10:58:00 PM
2
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
.
Jumlah yang Nyangkut
Corong Revolusi
Ekspresikanlah
Para Guru
Kutipan dari Langit
Hitungan Mundur
Detak-detik
Kicau
Diberdayakan oleh Blogger.
Follower
Mengenai Saya
- Adit Ahmad
- Hanya manusia biasa dengan misi pembebasan. Ingin mencoba berkontribusi untuk revolusi yang insya Allah pasti terjadi nanti. Masih dalam tahap belajar tentu, mencoba terus berkarya dalam segala keterbatasan.
